Sanur mencatat tingkat hunian hotel tertinggi di Bali dengan angka yang mendekati 90 persen pada momentum HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Capaian ini melampaui rata-rata okupansi hotel di Bali yang berada di level hampir 80 persen.
Tingginya hunian di Sanur menunjukkan kuatnya pergerakan wisatawan di salah satu kawasan utama Pulau Dewata selama Agustus. Kondisi tersebut juga menjadi sinyal positif bagi industri akomodasi, baik hotel berbintang maupun penginapan nonbintang.
Perbedaan Hunian Antarwilayah
Selain Sanur, Kabupaten Badung mencatat tingkat hunian sekitar 80 persen, sedangkan Ubud berada pada kisaran 70 persen. Selisih tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas wisatawan tersebar di sejumlah kawasan, meski tingkat permintaannya tidak sama.
| Wilayah | Tingkat Hunian | Keterangan |
|---|---|---|
| Sanur | Mendekati 90% | Tertinggi di Bali |
| Kabupaten Badung | Sekitar 80% | Menguasai 71% kamar hotel Bali |
| Ubud | Sekitar 70% | Berada di bawah rata-rata Bali |
Badung tetap memegang posisi penting dalam peta perhotelan Bali karena menguasai 71 persen dari sekitar 160.000 kamar yang tersedia. Dengan kapasitas tersebut, tingkat hunian di Badung menjadi salah satu penanda utama kondisi permintaan akomodasi di Bali.
Rata-rata hampir 80 persen juga mencakup hotel berbintang dan akomodasi nonbintang atau melati. Kunjungan wisatawan yang relatif stabil sepanjang Agustus menopang capaian Okupansi Hotel Bali tersebut.
Dampak Langsung bagi Pekerja Hotel
Tingkat hunian yang tinggi tidak hanya berpengaruh pada bisnis pengelola hotel, tetapi juga pendapatan pekerja pariwisata. Penghasilan pekerja hotel di Bali disebut tidak semata-mata bergantung pada upah minimum kabupaten atau kota.
Pekerja hotel juga dapat menerima bonus pelayanan sekitar Rp3 juta hingga Rp15 juta per bulan. Nilainya bergantung pada tingkat hunian kamar serta harga kamar yang berlaku di masing-masing hotel.
Artinya, kenaikan jumlah tamu dan nilai transaksi kamar dapat ikut memengaruhi penerimaan pekerja di sektor perhotelan. Kondisi ini membuat stabilitas kunjungan wisatawan menjadi faktor yang penting bagi rantai ekonomi pariwisata.
Hotel Berbintang dan Daya Beli Wisatawan
Dominasi tamu yang menginap di hotel berbintang juga dipandang sebagai indikator daya beli wisatawan yang cukup kuat. Pola tersebut selaras dengan arah Pariwisata Bali yang menargetkan kunjungan wisatawan berkualitas berdasarkan tingkat pengeluaran.
Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya menilai wisatawan yang memilih hotel berbintang umumnya memiliki kemampuan belanja lebih baik. “Kalau kita lihat banyak wisatawan tinggal di hotel-hotel berbintang artinya daya belinya cukup tinggi, berarti yang pengeluarannya sangat bagus yang datang, bukan yang kelas ecek-ecek,” ujarnya.
Rai menyampaikan kondisi hunian Agustus tergolong sangat baik setelah Upacara Pengibaran Bendera HUT Ke-81 Kemerdekaan RI di Denpasar pada Senin, 17 Agustus 2026. Menurutnya, kunjungan wisatawan pada bulan tersebut relatif stabil sehingga hunian hotel berbintang maupun nonbintang berada pada level tinggi.
“Kunjungan wisatawan relatif stabil, khususnya Agustus ini, tingkat hunian sangat bagus di hotel berbintang maupun non-bintang atau melati, rata-rata Bali saat ini hampir 80%,” kata Rai. Data PHRI Bali itu menempatkan hotel berbintang sebagai penyumbang utama tingginya hunian akomodasi di Bali.
Pengawasan dan Keamanan Pariwisata
Di tengah capaian positif tersebut, industri pariwisata Bali memasuki momentum evaluasi menuju 100 tahun pariwisata Bali pada 2027. PHRI Bali menekankan perlunya pariwisata yang berbasis budaya, berkualitas, dan bermartabat.
Pengawasan ketat, penegakan aturan yang serius, serta sosialisasi intensif dinilai diperlukan agar penerapan kebijakan tidak menimbulkan kesalahpahaman di lapangan. Aspek keamanan dan kriminalitas juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi reputasi Bali sebagai tujuan wisata.
Untuk wisatawan mancanegara yang melakukan pelanggaran, imigrasi dan aparat hukum disebut telah melakukan penindakan tegas hingga deportasi. Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga kepercayaan wisatawan serta keberlanjutan sektor perhotelan Bali.






