Saham TINS Punya Ruang ke Rp 5.500, Risiko Harga Timah dan Royalti Mengintai

Target harga Rp 5.500 dari CGS International Sekuritas Indonesia membuka potensi kenaikan 41,3% bagi saham TINS dari posisi terakhir Rp 3.890. Prospek tersebut menjadi perhatian karena saham PT Timah Tbk telah menguat 25% sepanjang tahun berjalan.

Ruang kenaikan yang besar itu tetap disertai risiko utama dari kemungkinan normalisasi harga timah yang berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Perubahan kebijakan pemerintah, termasuk kenaikan royalti, juga berpotensi memengaruhi emiten ini karena sekitar 90% penjualan timahnya berbasis ekspor.

Target Jangka Panjang dan Acuan Perdagangan

CGS International merekomendasikan penambahan saham TINS dengan target Rp 5.500. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran harga harian Rp 4.060 yang diberikan KB Valbury Sekuritas pada perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026.

KB Valbury menempatkan Rp 3.720 sebagai area support yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Sekuritas itu menetapkan batas penghentian kerugian pada Rp 3.380 apabila harga bergerak melewati area tersebut.

IndikatorLevel/DataKeterangan
Penutupan 14 Agustus 2026Rp 3.890Naik 4,5%
Target harian KB ValburyRp 4.060Rekomendasi beli
Support KB ValburyRp 3.720Batas penghentian kerugian Rp 3.380
Target CGS InternationalRp 5.500Potensi kenaikan 41,3%

Pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, saham TINS ditutup naik 4,5% ke Rp 3.890. Dalam sepekan, saham ini menguat 0,7%, sedangkan penguatan selama satu bulan mencapai 13%.

Investor Daily melaporkan perhatian pasar terhadap saham tersebut berlanjut pada perdagangan 18 Agustus 2026. Pada saat itu, KB Valbury menyampaikan rekomendasi beli dengan target harga harian Rp 4.060.

Dasar Optimisme terhadap Valuasi

CGS International menilai target Rp 5.500 merefleksikan rasio harga terhadap laba atau PE sebesar 7 kali. Pada valuasi tersebut, PT Timah Tbk diperdagangkan dengan diskon sekitar 50% dibandingkan perusahaan sejenis di tingkat global.

Penguatan harga timah di London Metal Exchange atau LME menjadi salah satu dasar peningkatan target harga tersebut. CGS International memperkirakan harga jual rata-rata timah berada di kisaran US$ 48-49 per ton.

Selain asumsi harga komoditas, sekuritas itu memperkirakan rasio pembayaran dividen mencapai 70% pada tahun depan. Proyeksi dividen tersebut menjadi unsur tambahan dalam pandangan positif terhadap saham emiten timah ini.

Risiko yang Tetap Perlu Dicermati

Asumsi harga timah menjadi variabel penting karena penurunan atau normalisasi harga yang lebih cepat dapat mengubah dasar proyeksi target. Pergerakan harga komoditas global dengan demikian tetap perlu dipantau bersamaan dengan perkembangan kinerja perseroan.

Risiko regulasi juga relevan mengingat porsi ekspor yang dominan dalam penjualan timah perseroan. Kenaikan royalti dapat menjadi faktor yang diperhitungkan investor, terutama ketika target Rp 5.500 menawarkan potensi lebih besar daripada target perdagangan harian Rp 4.060.

Baca Juga