Penguatan IHSG membuka perhatian pada empat saham dengan arah rekomendasi yang berbeda, yakni HRTA, SRTG, INDY, dan FILM. Tiga saham mendapat rekomendasi beli, sedangkan FILM berada pada rekomendasi jual dengan target lebih rendah dari harga penutupannya.
IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup menguat 1,59% ke posisi 6.401,89. Momentum berikutnya akan diuji oleh keputusan BI Rate serta sinyal kebijakan suku bunga Amerika Serikat melalui risalah rapat FOMC.
Ringkasan Rekomendasi Empat Saham
| Saham | Rekomendasi | Harga Penutupan | Target dan Batas Risiko |
|---|---|---|---|
| HRTA | Beli | Rp2.150 | Target Rp2.230–Rp2.350; stop loss di bawah Rp2.000 |
| SRTG | Beli | Rp1.840 | Target Rp1.870–Rp1.915; stop loss di bawah Rp1.750 |
| INDY | Beli | Rp2.560 | Target Rp2.630–Rp2.710; stop loss di bawah Rp2.320 |
| FILM | Jual | Rp900 | Target Rp830 |
1. HRTA
HRTA direkomendasikan beli setelah menutup perdagangan di Rp2.150. Sasaran pergerakannya berada di rentang Rp2.230 hingga Rp2.350, dengan batas stop loss di bawah Rp2.000.
Rentang target tersebut menempatkan HRTA sebagai salah satu saham yang dicermati di tengah peluang kelanjutan penguatan indeks. Batas risiko perlu diperhatikan apabila harga bergerak turun melewati level yang telah ditentukan.
2. SRTG
SRTG mendapat rekomendasi beli dengan harga penutupan Rp1.840. Target harga berada pada kisaran Rp1.870 sampai Rp1.915, sementara stop loss ditetapkan di bawah Rp1.750.
Pergerakan menuju target pertama hingga target atas menjadi area yang diperhatikan pada saham ini. Posisi batas risiko memberi acuan apabila arah perdagangan tidak sesuai dengan proyeksi teknikal.
3. INDY
INDY juga masuk daftar rekomendasi beli setelah ditutup pada Rp2.560. Target pergerakannya dipatok di Rp2.630 hingga Rp2.710 dengan stop loss di bawah Rp2.320.
Target INDY berada di atas harga penutupan terakhirnya, sejalan dengan pandangan bahwa ruang penguatan pasar masih terbuka. Namun, jarak menuju stop loss menunjukkan pentingnya disiplin pengelolaan risiko dalam perdagangan jangka pendek.
4. FILM
Berbeda dari tiga saham lain, FILM memperoleh rekomendasi jual pada harga penutupan Rp900. Target harga saham ini berada di Rp830.
Arah rekomendasi FILM mencerminkan adanya pandangan yang lebih berhati-hati terhadap saham tersebut. Investor perlu membedakan rekomendasi jual ini dari tiga rekomendasi beli yang muncul dalam daftar yang sama.
Level IHSG yang Menjadi Penentu
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai IHSG masih berada dalam struktur bullish jangka pendek dan bertahan di atas MA20. Dalam risetnya pada Selasa (18/8/2026), ia menyebut peluang indeks untuk menguji level 6.455 masih terbuka.
Area support IHSG berada pada rentang 6.200–6.280, sedangkan resistance penting berada di 6.400–6.455. Penembusan di atas 6.455 dapat mengonfirmasi penguatan lanjutan menuju kisaran 6.568–6.716.
“Secara teknikal, IHSG masih berada dalam short-term bullish structure dan bertahan di atas MA20, sehingga peluang menguji 6.455 masih terbuka,” kata Reza. Level tersebut menjadi perhatian karena indeks baru saja ditutup di 6.401,89.
Sentimen BI Rate dan Risalah FOMC
Pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk melihat arah BI Rate pekan ini. Menurut market.bisnis.com, pelaku pasar memperkirakan suku bunga acuan akan tetap berada pada level 5,75%.
Dari Amerika Serikat, risalah pertemuan FOMC menjadi acuan untuk membaca arah kebijakan The Fed berikutnya. Kebijakan moneter domestik dan global dapat menentukan apakah momentum penguatan IHSG mampu berlanjut.
Sentimen domestik sebelumnya juga mendapat dukungan dari pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027. Pasar menyoroti target defisit anggaran 2,40% dari produk domestik bruto serta optimisme pertumbuhan ekonomi hingga 6% pada 2026.
Rupiah yang menguat ke Rp17.827 per dolar AS turut mendukung sentimen pasar domestik. Meski demikian, rekomendasi saham tersebut bersifat informasi pasar, sehingga keputusan investasi dan risikonya tetap menjadi tanggung jawab masing-masing investor.






