Rupiah kembali melemah dan ditutup pada Rp17.862 per dolar AS di pasar spot, Selasa, 18 Agustus 2026. Dalam sehari perdagangan, mata uang Indonesia turun 0,36 persen atau 64 poin.
Penurunan ini terjadi setelah rupiah sempat menguat pada perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Senin, 17 Agustus 2026, naik 0,16 persen dan berada di level Rp17.798 per dolar AS.
Pasar kini menanti sejumlah agenda yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar, mulai dari risalah rapat Federal Open Market Committee hingga keputusan Bank Indonesia. Ketidakpastian global juga meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Pergerakan Rupiah dalam Beberapa Acuan
| Waktu/Acuan | Nilai Tukar | Pergerakan |
|---|---|---|
| Spot, 18 Agustus 2026 | Rp17.862 per dolar AS | Melemah 0,36 persen atau 64 poin |
| Spot, 17 Agustus 2026 | Rp17.798 per dolar AS | Menguat 0,16 persen |
| Jisdor Bank Indonesia, 14 Agustus 2026 | Rp17.836 per dolar AS | Posisi acuan |
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.
Perkiraan tersebut muncul setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara agresif dengan total 75 basis poin sepanjang April hingga Juni 2026. Kebijakan suku bunga menjadi salah satu indikator yang dicermati pasar ketika tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.
Investor juga memperhatikan perkembangan utang luar negeri Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri pada triwulan II 2026 tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi 453,4 miliar dolar AS.
Kenaikan Harga Minyak Menambah Kebutuhan Dolar
Lonjakan harga minyak mentah dinilai dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi nasional. Kondisi itu berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS di pasar domestik untuk pembelian minyak mentah global.
Ibrahim Assuaibi menilai mekanisme tersebut memberi tekanan langsung kepada rupiah. “Lonjakan permintaan dolar AS untuk membeli minyak mentah di pasar global membuat dolar menguat dan menekan nilai tukar rupiah,” ucapnya dalam analisis pada Selasa, 18 Agustus 2026.
Tekanan energi muncul ketika situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memburuk. Eskalasi meningkat setelah berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Kelompok Houthi di Yaman juga meluncurkan rudal ke kapal militer Arab Saudi. Sementara itu, Oman mulai mengupayakan pembicaraan mengenai jalur pelayaran Selat Hormuz.
Perkembangan di kawasan tersebut menjadi perhatian karena gangguan geopolitik dapat mendorong harga energi naik. Kenaikan harga energi pada akhirnya memicu kekhawatiran terhadap inflasi global serta memperbesar tekanan pada mata uang negara pengimpor minyak.
Ibrahim turut menyoroti ketidakpastian politik yang menyertai dinamika kawasan. “Trump bahkan mengancam akan membom negara Oman jika negara itu menghalangi AS. Tidak jelas apa yang mendasari Trump melontarkan ancaman itu,” katanya.
Risalah The Fed Menjadi Penantian Berikutnya
Selain konflik dan harga minyak, pelaku pasar valuta asing menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee bulan Juli yang dijadwalkan rilis pada Rabu waktu setempat. Dokumen tersebut dinilai dapat memberi kejelasan mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
“Pelaku pasar menantikan risalah rapat the Fed bulan Juli kemarin untuk mendapatkan kejelasan arah kebijakan the Fed,” ujar Ibrahim. Arah rupiah selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan Timur Tengah, pergerakan harga minyak, risalah The Fed, serta keputusan suku bunga Bank Indonesia.






