Rupiah Diproyeksikan ke Rp17.920, Rapat BI dan Minyak Mahal Menjadi Penentu

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu, 19 Agustus 2026. Pelaku pasar membidik kisaran pergerakan hingga Rp17.920 per dolar AS di tengah gabungan sentimen domestik dan global.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.860 hingga Rp17.920 per dolar AS. Perhatian pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada Rabu.

Tekanan tersebut muncul setelah rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36 persen pada Selasa sore, 18 Agustus 2026. Mata uang domestik berakhir di Rp17.862 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.798 per dolar AS.

Minyak Mahal Menambah Kebutuhan Dolar

Harga minyak mentah dunia yang naik di atas US$83 per barel menjadi salah satu faktor eksternal yang membebani rupiah. Kenaikan harga itu terjadi ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran memanas.

Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi menaikkan kebutuhan devisa untuk impor energi. Pembayaran impor minyak mentah dalam denominasi dolar AS dapat memperbesar permintaan terhadap mata uang Amerika Serikat.

Situasi tersebut membuat pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi kebijakan moneter dalam negeri. Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan harga energi global karena dampaknya dapat merambat ke kebutuhan dolar untuk impor.

Posisi Utang Luar Negeri Ikut Dicermati

Sentimen domestik lain datang dari kenaikan posisi Utang Luar Negeri Indonesia yang dilaporkan Bank Indonesia. Posisi ULN tumbuh 4,4 persen secara tahunan menjadi US$453,4 miliar atau setara Rp8.089,1 triliun.

PeriodePosisi ULNSetara Rupiah
Mei 2026US$444,4 miliarRp7.928,5 triliun
Posisi terbaruUS$453,4 miliarRp8.089,1 triliun

Kenaikan posisi ULN menambah faktor yang diperhitungkan pasar dalam membaca stabilitas moneter. Pandangan Bank Indonesia mengenai perkembangan utang luar negeri akan menjadi bagian dari sinyal yang dinilai pelaku pasar.

Data tersebut hadir ketika tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda setelah pelemahan pada perdagangan sebelumnya. Kombinasi kenaikan ULN dan kebutuhan dolar untuk impor energi membuat sentimen terhadap mata uang domestik tetap sensitif.

Arah Kebijakan BI Dinanti

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia menjadi agenda utama yang dapat menentukan arah rupiah berikutnya. Pasar memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.

Sebelumnya, suku bunga acuan telah dinaikkan total 75 basis poin sepanjang April hingga Juni 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari kebijakan yang diperhatikan pasar dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurut Ibrahim Assuaibi, perhatian pasar tidak terbatas pada keputusan suku bunga. Pasar juga akan menilai pandangan BI mengenai stabilitas rupiah, inflasi domestik, likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah bakal fluktuatif namun diprediksi melemah di rentang Rp 17.860 – Rp 17.920 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menilai sikap dan panduan BI dapat memengaruhi arah nilai tukar setelah fase stabilisasi agresif dalam beberapa bulan terakhir.

Rentang Rp17.860 hingga Rp17.920 per dolar AS kini menjadi area yang dipantau pasar. Komunikasi Bank Indonesia setelah rapat akan menentukan apakah tekanan pada rupiah berlanjut atau dapat diredam.

Baca Juga