Saham BYAN Melonjak Nyaris 20 Persen, Rumor Akuisisi Belum Dikonfirmasi

Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melonjak 19,97 persen dalam satu hari perdagangan di tengah beredarnya rumor pengambilalihan saham perusahaan. Kenaikan tajam itu terjadi tanpa konfirmasi resmi dari perseroan mengenai dugaan transaksi akuisisi tersebut.

Pada perdagangan Selasa (18/8/2026), saham BYAN ditutup di Rp17.275 atau naik 2.875 poin dari posisi awal perdagangan Rp14.400. Pergerakan ini menempatkan BYAN sebagai salah satu saham yang mendapat perhatian besar akibat sentimen spekulatif.

Penguatan juga dialami PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), emiten yang disebut memiliki afiliasi dengan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. Saham JARR menutup perdagangan di Rp2.510 setelah meningkat 24,88 persen atau 500 poin pada hari yang sama.

EmitenHarga PenutupanKenaikan
BYANRp17.27519,97 persen atau 2.875 poin
JARRRp2.51024,88 persen atau 500 poin

Lonjakan dua saham tersebut dikaitkan dengan rumor bahwa Haji Isam tengah mempersiapkan pengambilalihan kepemilikan di Bayan Resources. Rumor yang beredar menyebut transaksi itu dapat mencakup sekitar 62 persen saham perusahaan batu bara tersebut.

Namun, informasi mengenai aksi korporasi itu belum memperoleh penjelasan resmi dari manajemen Bayan Resources. Perseroan telah dihubungi untuk dimintai keterangan, tetapi belum memberikan pernyataan terkait dugaan akuisisi tersebut.

Rumor Berawal dari Kunjungan Tambang

Menurut laporan Kompas Money, isu akuisisi mencuat setelah terdapat pemberitaan mengenai kunjungan ke area operasional tambang BYAN di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dalam kunjungan pada Sabtu (15/8/2026) itu, Haji Isam disebut terlihat bersama pemegang saham pengendali Bayan Resources, Dato’ Low Tuck Kwong, serta pemilik Republik Korpora Indonesia, Norman Joesoef.

Kehadiran sejumlah pihak tersebut memicu perhatian pasar, tetapi belum dapat dipandang sebagai bukti bahwa transaksi telah disepakati. Investor perlu membedakan antara informasi mengenai pertemuan bisnis dan pengumuman resmi atas perubahan kepemilikan saham.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengingatkan bahwa transaksi akuisisi pada masa lalu tidak selalu berakhir sesuai harapan pelaku pasar. Karena itu, keterbukaan informasi menjadi faktor penting ketika harga saham bergerak akibat isu aksi korporasi.

“Kalau isu seperti ini, yang harus memberikan informasi secara transparan kan dari bursa sebenarnya,” kata Rully usai Media Day pada Selasa (18/8/2026). Ia menilai Bursa Efek Indonesia perlu lebih komunikatif dalam menyampaikan informasi mengenai dugaan akuisisi tersebut.

Rully menyebut sentimen seperti ini memang dapat menarik perhatian investor ritel karena membuka peluang keuntungan dalam waktu singkat. “Retail investor yang lebih suka hal-hal yang spekulatif,” ujarnya.

Risiko muncul ketika investor membeli saham setelah harganya sudah melonjak, kemudian harga berbalik turun apabila rumor tidak terbukti. Kondisi tersebut dapat membuat potensi keuntungan jangka pendek berubah menjadi kerugian dalam waktu singkat.

Agenda RUPSLB JARR

Di tengah perhatian terhadap rumor tersebut, JARR mengumumkan rencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. RUPSLB itu dijadwalkan berlangsung pada Senin, 21 September 2026.

Jadwal rapat tersebut menambah perhatian pasar terhadap JARR, tetapi tidak menjadi konfirmasi atas rumor akuisisi BYAN. Informasi dari perusahaan dan otoritas pasar tetap menjadi rujukan utama sebelum investor mengambil keputusan transaksi.

Baca Juga