Rupiah menutup perdagangan Senin, 18 Agustus 2026, pada level Rp17.844 per dolar AS. Mata uang domestik itu melemah 64 poin atau 0,36 persen ketika pasar mengambil sikap hati-hati menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang akan menentukan arah sentimen perdagangan berikutnya. Ketidakpastian tersebut muncul ketika tekanan eksternal turut meningkat akibat lonjakan harga minyak mentah dunia.
Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Perkembangan kawasan itu dinilai memperberat sentimen pasar terhadap mata uang Garuda.
Pergerakan rupiah tidak terjadi secara terpisah dari pasar regional. Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS, meski won Korea Selatan dan ringgit Malaysia bergerak menguat.
| Mata Uang | Pergerakan | Persentase |
|---|---|---|
| Rupiah | Melemah | 0,36% |
| Peso Filipina | Melemah | 0,50% |
| Dolar Taiwan | Melemah | 0,36% |
| Yen Jepang | Melemah | 0,17% |
| Baht Thailand | Melemah | 0,16% |
| Dolar Singapura | Melemah | 0,05% |
| Yuan China | Melemah | 0,05% |
| Won Korea Selatan | Menguat | 0,39% |
| Ringgit Malaysia | Menguat | 0,11% |
Peso Filipina mencatat pelemahan paling dalam di antara mata uang yang tercantum, yakni 0,50 persen. Dolar Taiwan menyusul dengan koreksi 0,36 persen, sama seperti pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan.
Yen Jepang turun 0,17 persen dan baht Thailand melemah 0,16 persen. Dolar Singapura serta yuan China masing-masing tercatat terkoreksi 0,05 persen.
Di tengah dominasi koreksi tersebut, won Korea Selatan justru menguat 0,39 persen. Ringgit Malaysia juga naik 0,11 persen sehingga pergerakan mata uang Asia tidak sepenuhnya seragam.
Putusan Suku Bunga Menjadi Fokus Pasar
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan kehati-hatian investor dipengaruhi oleh agenda kebijakan moneter dan data eksternal domestik yang akan segera dirilis. Menurutnya, dua agenda itu menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah dalam waktu dekat.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kehati-hatian investor menjelang Rapat Dewan Gubernur BI besok dan rilis data neraca transaksi berjalan Jumat ini,” ujar Lukman. Pernyataan itu menempatkan keputusan suku bunga BI sebagai perhatian utama pasar setelah penutupan rupiah di Rp17.844.
Lukman juga menilai posisi rupiah pada perdagangan berikutnya sangat tergantung pada hasil penetapan suku bunga. “Posisi rupiah besok akan tergantung dari hasil suku bunga besok,” jelasnya.
Pasar menunggu kepastian arah kebijakan yang akan ditempuh otoritas moneter Indonesia. Respons BI terhadap kondisi pasar akan menjadi salah satu penentu sentimen setelah rupiah tertekan dalam perdagangan Senin.
Data Transaksi Berjalan Ikut Dinanti
Selain keputusan BI, investor menanti rilis data neraca transaksi berjalan yang dijadwalkan pada Jumat. Data tersebut menjadi agenda berikutnya yang dipantau karena dapat memengaruhi pandangan pasar terhadap kondisi eksternal Indonesia.
Data Bloomberg mencatat rupiah bergerak turun pada penutupan perdagangan hari itu. Dengan tekanan harga minyak mentah, konflik Timur Tengah, keputusan suku bunga BI, dan data transaksi berjalan yang masih dinanti, peluang koreksi lanjutan tetap menjadi perhatian pasar.






