PT Erajaya Swasembada Tbk membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp784 miliar pada semester pertama 2026. Angka tersebut melonjak 38,0% secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan penjualan yang naik 22,4% menjadi Rp42,9 triliun.
Lonjakan laba terjadi ketika pasar ponsel berharga terjangkau justru mengalami tekanan akibat kenaikan harga ritel. Peralihan bauran penjualan menuju smartphone premium, efisiensi operasional, serta kontribusi bisnis nonponsel menjadi penopang utama kinerja Erajaya.
Margin Menguat di Tengah Pertumbuhan Penjualan
Laba kotor Erajaya selama enam bulan pertama 2026 mencapai Rp4,8 triliun atau meningkat 21,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Margin laba kotor bertahan di 11,2%, sedangkan margin bersih naik menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,6%.
Perbaikan juga terlihat pada rasio beban operasional terhadap penjualan yang turun dari 8,1% menjadi 7,8%. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan mampu diimbangi dengan pengendalian biaya di tengah ekspansi jaringan ritel.
Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama sekaligus analis pasar modal, menilai pertumbuhan laba yang lebih cepat daripada penjualan dapat menjadi sinyal positif dari leverage operasional. Namun, perbaikan tersebut perlu ditopang kualitas pengelolaan bisnis, terutama dalam mengarahkan penjualan ke produk bernilai lebih tinggi dan mengelola modal kerja.
Menurut Wawan, efisiensi biaya tetap penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Daya tawar terhadap merek serta kemampuan mengelola persediaan juga berperan dalam menjaga profitabilitas.
Ekspansi Gerai Tetap Berjalan
Di tengah penurunan rasio beban, Erajaya tetap membuka 276 gerai baru sepanjang semester pertama 2026. Setelah memperhitungkan penataan jaringan, penambahan bersih gerai mencapai 173 unit.
Total jaringan seluruh vertikal bisnis grup mencapai 2.506 gerai pada akhir Juni 2026. Pembukaan gerai dalam jumlah besar umumnya meningkatkan beban pada tahap awal karena setiap lokasi membutuhkan waktu untuk mencapai produktivitas penuh.
Wawan menilai ekspansi dan penataan jaringan dalam skala tersebut menunjukkan pengelolaan portofolio gerai yang aktif. Turunnya rasio beban di tengah pembukaan gerai baru juga mencerminkan manfaat skala, ketika biaya tetap dapat tersebar pada basis penjualan yang lebih besar.
Kontribusi lini active lifestyle ikut memperkuat bauran pendapatan grup. PT Sinar Eka Selaras Tbk atau ERAL, anak usaha Erajaya, mencatat penjualan Rp3,7 triliun atau tumbuh 41,0% secara tahunan.
Margin laba kotor ERAL naik menjadi 18,1% dari 17,7% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Margin tersebut berada di atas margin laba kotor konsolidasi Erajaya yang tercatat 11,2%.
Pasar Murah Melemah, Segmen Premium Menguat
Perubahan kinerja Erajaya berlangsung saat pasar smartphone nasional menghadapi kontraksi. Counterpoint Research mencatat total pengiriman smartphone nasional pada kuartal I 2026 turun 9% secara tahunan.
| Indikator | Periode | Perubahan |
|---|---|---|
| Smartphone di atas US$600 | Awal 2026 | Tumbuh 30% tahunan |
| Kontribusi segmen di atas US$600 | Awal 2026 | 8,3% dari pengiriman nasional |
| Total pengiriman smartphone nasional | Kuartal I 2026 | Turun 9% |
| Smartphone di bawah US$150 | Kuartal I 2026 | Turun 19% |
Segmen smartphone di atas US$600 tumbuh 30% secara tahunan pada awal 2026 dan menyumbang 8,3% dari pengiriman nasional. Porsi tersebut menjadi kontribusi tertinggi sepanjang sejarah bagi segmen premium di Indonesia.
Di sisi lain, keterbatasan pasokan chip memori mendorong harga ritel ponsel naik sekitar 7% hingga 45%. Tekanan paling dalam terjadi pada perangkat di bawah US$150 atau sekitar Rp2,4 juta yang pengirimannya turun 19% pada kuartal I 2026.
“Segmen di atas US$600 menguat, artinya demand premium naik. Harga ritel naik karena harga memori yang melonjak, dan di entry level memang cenderung lebih sensitif terhadap kenaikan harga,” ujar Wawan.
Persediaan dan Penjualan Gerai Lama Jadi Perhatian
Keterbatasan pasokan chip memori membuat persediaan di kanal penjualan menjadi lebih ramping. Situasi ini membantu mengurangi dana yang tertahan dalam stok dan menekan risiko persediaan mahal dalam jangka pendek.
Same Store Sales Growth atau SSSG Erajaya selama semester pertama 2026 masih positif 4,1%. Namun, SSSG pada Juni terkoreksi 11,6% secara tahunan setelah normalisasi dari lonjakan peluncuran iPhone 16 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada lini active lifestyle, SSSG Juni relatif stabil dengan koreksi tipis 0,5% secara tahunan. Secara kumulatif, SSSG bisnis tersebut tetap tumbuh 8,8% selama enam bulan pertama 2026.
Erajaya menyiapkan kampanye iBox Back-to-School, Festival Belanja erafone, serta program perayaan 30 tahun Erajaya untuk menjaga momentum lini digital pada kuartal ketiga. Produktivitas gerai baru, pengelolaan stok, dan kemampuan mempertahankan penjualan gerai lama akan menjadi indikator penting menjelang periode permintaan kuartal keempat.






