Kesiapan mahasiswa baru untuk mengikuti kalkulus di UC Berkeley menurun tajam setelah pandemi. Pada 2023, hanya 44 persen peserta tes diagnostik yang dinilai siap menghadapi mata kuliah tersebut.
Masalahnya tidak hanya terlihat pada capaian kalkulus, melainkan juga pada kemampuan dasar. Sebanyak 17 persen peserta tes tidak mampu menjawab benar satu pun soal dari delapan topik yang diujikan.
Fondasi matematika menjadi perhatian
Dosen matematika UC Berkeley, Zvezdelina Stankova, menilai kesenjangan kemampuan itu mengubah jalannya perkuliahan. Pengajar harus mengulang pecahan, aljabar dasar, dan persamaan linear ketika kelas seharusnya membahas materi yang lebih lanjut.
Menurut Stankova, sejumlah mahasiswa datang dengan kemampuan matematika yang tertinggal lima hingga delapan tahun. Kondisi tersebut membuat pembelajaran kalkulus, integral, dan persamaan diferensial tidak dapat berjalan sesuai target.
| Periode | Peserta Tes | Siap untuk Kalkulus | Catatan |
|---|---|---|---|
| 2018–2020 | 2.200 | 71% | 0,14% berada di bawah aljabar dasar |
| 2021–2023 | 2.800 | 51% | Kesiapan turun hingga 44% pada 2023 |
Data tes diagnostik Kalkulus I menunjukkan perubahan besar dibandingkan periode sebelum pandemi. Dari 2018 hingga 2020, 71 persen dari 2.200 peserta dinilai siap mengikuti kalkulus, sedangkan angka itu menjadi 51 persen pada pengujian 2021–2023.
Kesulitan yang lebih berat juga meningkat dalam periode terbaru. Pada 2022–2023, lebih dari sepertiga mahasiswa disebut memiliki kekurangan pemahaman matematika yang parah, sementara nilai yang paling sering muncul dalam ujian adalah nol.
Waktu kuliah terserap untuk materi dasar
Dalam opini yang dimuat The San Francisco Standard, Stankova menggambarkan tekanan yang dihadapi pengajar saat menangani kelas dengan kesiapan yang sangat beragam. Dosen kerap harus menghentikan pembahasan materi lanjutan demi kembali menjelaskan dasar-dasar matematika.
“Jam kerja yang seharusnya digunakan untuk membahas integral malah jadi pelajaran tentang pecahan dan aljabar dasar yang seharusnya dipelajari siswa di SMP,” kata Stankova. Ia menyatakan persoalan ini tidak hanya dialami oleh satu pengajar maupun satu kampus dalam sistem University of California.
Penurunan kesiapan akademik juga tercatat di UC San Diego. Laporan Senate-Administration Workgroup on Admissions bertanggal 8 Januari 2026 mencatat kemunduran kemampuan mahasiswa baru pada periode 2020–2025, terutama dalam matematika.
Jumlah mahasiswa UC San Diego dengan kemampuan matematika di bawah tingkat SMA meningkat hampir 30 kali lipat dalam lima tahun tersebut. Sebanyak 70 persen dari kelompok itu berada di bawah tingkat SMP, atau setara sekitar satu dari 12 mahasiswa baru.
Perdebatan soal SAT dan ACT
Stankova bersama ribuan dosen dari 10 kampus UC mendesak universitas mempertimbangkan kembali penggunaan SAT dan ACT dalam penerimaan mahasiswa. Kelompok pendukungnya mencakup lima peraih Nobel yang menilai nilai ujian dapat menjadi salah satu indikator kesiapan akademik.
Kampus-kampus UC sebelumnya menghapus persyaratan nilai tes terstandar secara bertahap sejak pandemi COVID-19 dengan pertimbangan kesetaraan. Kebijakan itu juga melarang staf penerimaan memakai hasil tes sebagai tolok ukur seleksi.
Stankova membandingkan kebijakan tersebut dengan sejumlah kampus elite Amerika Serikat yang kembali menerapkan syarat tes setelah pandemi, termasuk MIT, Stanford, Harvard, dan Yale. Peninjauan di UC direncanakan selesai pada Juni 2027, sehingga perubahan penerimaan paling cepat dapat berlaku pada musim gugur 2028.
Menurut Stankova, seleksi tanpa tes terstandar berisiko menempatkan mahasiswa yang belum siap pada jurusan dengan tuntutan matematika tinggi, seperti teknik. Di sisi lain, calon mahasiswa yang telah mengambil kalkulus dan mata pelajaran STEM juga dapat gagal diterima.






