Ketertinggalan lebih dari satu detik per putaran dari Aprilia di Silverstone menjadi gambaran besarnya pekerjaan yang masih dihadapi Honda. Luca Marini menilai RC213V membutuhkan pembenahan yang lebih cepat, terutama untuk meningkatkan catatan satu putaran pada sesi kualifikasi.
Pembalap Italia tersebut melihat performa balapan Honda sebenarnya belum sepenuhnya buruk. Namun, posisi старт yang kerap berada di luar 15 besar membuat peluang untuk meraih hasil lebih tinggi menjadi sangat terbatas.
Marini menyelesaikan Grand Prix Inggris di Sirkuit Silverstone pada pertengahan Agustus 2026 dari posisi kesembilan. Hasil itu diraihnya setelah memulai balapan dari urutan ke-15 dan sempat kehilangan sejumlah posisi pada dua tikungan pertama.
Ia kemudian mampu menyalip kembali beberapa rival meski sempat melebar di tikungan ke-16. Menurut Marini, ban tidak mengalami masalah keausan berarti hingga balapan berakhir, sehingga potensi Honda dalam jarak panjang tetap terlihat.
Kualifikasi Menjadi Titik Kritis
Masalah utama bagi Honda RC213V, menurut Marini, muncul ketika pembalap mengejar waktu terbaik dalam satu putaran. Ia menyatakan hasil balapan hari Minggu dapat lebih kompetitif, tetapi posisi start dari urutan ke-15 atau ke-16 terlalu merugikan.
Dalam kondisi balapan yang penuh duel, Marini merasa dapat tampil sedikit lebih cepat karena pembalap lain tidak selalu bisa mengerem hingga batas maksimal. Situasinya berbeda saat time attack, ketika setiap pembalap dapat memaksimalkan pengereman tanpa gangguan lalu lintas di lintasan.
Marini menilai Joan Mir mampu menciptakan perbedaan dengan gaya pengereman yang sangat agresif dan dalam pada sesi kualifikasi. Ia menyebut rekan setimnya itu sebagai pembalap yang paling keras mengerem di MotoGP saat ini.
Gaya tersebut dinilai dapat mengurangi sebagian kekurangan teknis motor saat mengejar catatan waktu. Namun, Marini menegaskan Honda tetap memerlukan peningkatan mendasar agar tidak hanya bergantung pada cara berkendara pembalap.
Grip Belakang Menyulitkan Pengembangan
Selain kualifikasi, cengkeraman ban belakang menjadi persoalan rumit yang disorot Marini. Upaya menambah grip memang dapat dilakukan, tetapi perubahan itu berisiko membuat motor tidak stabil ketika keluar tikungan.
Ia menjelaskan RC213V dapat bergetar saat motor diangkat dari posisi miring. Guncangan tersebut menyebabkan waktu hilang, termasuk ketika kontrol traksi mulai melakukan intervensi.
“Jika kita mencoba menambah cengkeraman, motor menjadi bergetar saat saya mengangkatnya. Ini agak rumit,” ujar Marini. Honda harus menemukan keseimbangan karena grip pada sisi luar ban belum cukup untuk menghasilkan putaran cepat.
Berbagai perubahan sudah dicoba Honda sepanjang paruh pertama musim 2026. Meski demikian, Marini merasa karakter dasar motor masih tetap sama, sehingga pengembangan perlu berfokus pada fondasi yang ada sambil mengejar performa tambahan.
Aerodinamika Diminta Lebih Cepat
Marini juga mendesak percepatan pengembangan aerodinamika, yang ia nilai sangat menentukan perilaku motor di lintasan. Regulasi masih memberi keleluasaan cukup besar pada bidang tersebut, sehingga ia mendorong Honda meningkatkan investasi pengembangannya.
Ia berpendapat sejumlah insinyur perlu merasakan langsung perbedaan karakter motor ketika memakai winglet dan ketika komponen itu dilepas. Pengalaman di lintasan dinilai dapat membantu teknisi memahami dampak aerodinamika secara lebih utuh, bukan hanya melalui data.
“Setidaknya beberapa insinyur harus merasakan sendiri, bagaimana perilaku motor saat menggunakan winglet maupun saat tidak menggunakannya,” kata Marini. Ia menilai masih tersedia ruang besar untuk memperbaiki aspek aerodinamika Honda.
Perbaikan itu menjadi semakin mendesak setelah Aprilia menunjukkan peningkatan besar dibandingkan musim sebelumnya. Keunggulan mereka di Silverstone memperlihatkan jarak yang harus dikejar Honda dalam persaingan performa satu putaran.
Kalender MotoGP 2026 Dinilai Terlalu Padat
Di luar persoalan teknis motor, Marini turut mengkritik kepadatan kalender MotoGP 2026. Ia mengusulkan agar balapan digelar lebih berdekatan agar jeda musim dingin dapat berlangsung lebih panjang.
Menurutnya, susunan kalender saat ini membuat pembalap praktis tidak memiliki waktu jeda yang cukup sepanjang tahun. “Dengan kalender saat ini, praktis tidak ada jeda. Saya berlatih sepanjang tahun,” kata Marini.
Waktu istirahat yang lebih memadai dinilainya penting untuk menangani cedera lama serta menjalani fisioterapi dan program latihan fisik secara terencana. Hingga seri ke-12 MotoGP 2026, Marini menempati posisi ke-10 klasemen sementara dengan 86 poin dan menjadi pembalap Honda dengan peringkat tertinggi.






