Keluarga Susanah Cileungsi meluruskan keterangan mengenai pekerjaan perempuan yang namanya disebut dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto. Menurut keluarga, Susanah bukan pengupas bawang, melainkan menjahit kain lap majun serta mencuci ompreng untuk Program Makan Bergizi Gratis.
Klarifikasi itu disampaikan setelah muncul perbincangan mengenai narasi bahwa Susanah bekerja mengupas bawang dengan pendapatan Rp700 ribu per kilogram. Wina, kakak ipar Susanah, menegaskan angka Rp700 tersebut berkaitan dengan upah menjahit kain lap majun per kilogram.
Upah Jahit Majun Rp700 per Kilogram
Wina menyatakan tidak ada warga di lingkungan tempat tinggal Susanah yang bekerja sebagai pengupas bawang. Ia menerangkan Susanah menjahit majun pada pagi hari, kemudian bekerja mencuci ompreng dari siang sampai sore.
Pekerjaan menjahit majun dilakukan dengan upah Rp700 per kilogram. Dengan kemampuan menjahit sekitar 20 kilogram dalam sehari, penghasilan dari pekerjaan itu sekitar Rp14.000 per hari.
| Pekerjaan Susanah | Waktu Kerja | Keterangan |
|---|---|---|
| Menjahit kain lap majun | Pagi hari | Rp700 per kilogram, sekitar 20 kilogram per hari atau Rp14.000 |
| Mencuci ompreng | Siang hingga sore | Petugas Program Makan Bergizi Gratis selama tujuh bulan |
Selain menjahit majun, Susanah telah bekerja sebagai petugas ompreng Program Makan Bergizi Gratis selama tujuh bulan terakhir. Suaminya bekerja serabutan sebagai kuli bangunan.
“Itu tidak benar. Ibu Susanah itu bekerja di MBG dan juga penjahit lap majun dengan harga Rp700 per kilo,” ujar Wina. Ia menambahkan bahwa informasi Susanah mengupas bawang dengan bayaran Rp700 ribu per kilogram tidak sesuai keadaan sebenarnya.
Anak Susanah Menyampaikan Klarifikasi
Anak Susanah juga memberikan penjelasan melalui akun Instagram mengenai kehadiran ibunya dalam sidang paripurna. Menurut keterangan keluarga, Susanah menerima undangan acara kenegaraan sebagai rezeki tanpa mengetahui dirinya akan diperkenalkan sebagai pengupas bawang.
“Sorry kak itu ibu saya, beliau juga kaget pas dibilang pengupas bawang, beliau juga sudah klarif pekerjaan sebenarnya,” tulis anak Susanah. Ia kembali menegaskan, “Mamah saya kerjanya jahit kak bukan kupas bawang.”
Anak Susanah mengatakan ibunya memandang undangan tersebut sebagai kesempatan baik. “Pikiran mamah saya memang rezeki kebetulan diundang ke sana, makanya mamah saya menerima undangan itu,” ungkapnya.
Rumah Dibatasi untuk Mengendalikan Keramaian
Di tengah perhatian publik itu, kediaman Susanah di Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, dipasangi garis polisi kuning. Pembatasan tersebut dipasang pengurus lingkungan pada Senin (17/8/2026) untuk mengendalikan kedatangan awak media.
Garis kuning terlihat diikat pada atap teras rumah Susanah dan bangunan menyerupai pos kamling di ujung gang. Langkah itu diambil setelah pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara, Jakarta, pada Jumat (14/8/2026).
Iis, istri Ketua RT setempat, mengatakan pemasangan pembatas dibahas bersama Ketua RW, kepala desa, dan kepala dusun. Saat keputusan dibuat, Susanah dan suaminya sedang berada di Jakarta.
Pengurus lingkungan mengkhawatirkan ramainya peliputan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak-anak Susanah. Karena itu, wartawan yang hendak melakukan peliputan diminta berkoordinasi terlebih dahulu agar aktivitas di sekitar rumah tetap terkendali.
Istana Akan Memeriksa Data
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah akan memeriksa kembali data mengenai pekerjaan dan upah Susanah yang ramai dibahas. “Nanti kita cek ya,” ujar Prasetyo Hadi.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi meminta publik melihat substansi pidato besar Presiden secara utuh. Ia menilai perhatian pada potongan satu atau dua kalimat di media sosial kerap berlebihan.
“Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng, saya rasa kita harus belajar untuk tidak terfokus,” kata Hasan Nasbi.
Hasan juga mengingatkan pengaruh algoritma terhadap emosi dan cara publik menerima informasi. “Kita kayaknya harus belajar merdeka dari penjajahan algoritma ini,” ujarnya.






