Retakan hingga Dermaga Roboh, Pelayaran Flores Diawasi Ketat Pascagempa M 7,0

Fasilitas pelabuhan yang mengalami retakan, deformasi, atau indikasi kerusakan struktural belum boleh dioperasikan setelah gempa magnitudo 7,0 mengguncang Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur. Otoritas pelabuhan memperketat pengawasan agar aktivitas transportasi laut tidak membahayakan penumpang, awak kapal, maupun petugas.

Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan meminta seluruh Unit Pelaksana Teknis di wilayah terdampak meningkatkan monitoring selama sedikitnya 24–48 jam. Pengawasan ini menjadi langkah awal sebelum fasilitas yang rusak dapat kembali digunakan secara normal.

Pemeriksaan Menyeluruh Sebelum Operasi Normal

Pemeriksaan teknis dilakukan pada struktur penting yang menopang aktivitas kapal dan pelayanan penumpang. Bagian yang diperiksa meliputi dermaga, trestle, apron, fender, bollard, terminal penumpang, hingga peralatan bongkar muat.

Otoritas juga menelusuri kondisi fasilitas listrik dan BBM, alur pelayaran, serta akses menuju pelabuhan. Hasil pemeriksaan tersebut akan menentukan langkah pengamanan dan penanganan di masing-masing lokasi.

Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud menegaskan keselamatan pengguna jasa menjadi prioritas dalam penanganan pascagempa. “Fasilitas yang mengalami keretakan, deformasi, atau indikasi kerusakan struktural, tidak dioperasikan sebelum dinyatakan aman melalui pemeriksaan teknis.”

Pernyataan tersebut menandai bahwa kerusakan fisik tidak langsung diikuti pembukaan layanan tanpa verifikasi. Masyarakat yang menggunakan pelabuhan di wilayah terdampak diminta tetap tenang dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Tiga Pelabuhan Utama Mengalami Kerusakan

Tiga lokasi menjadi perhatian utama setelah gempa terjadi pada Sabtu (15/8), yakni Pelabuhan Laurentius Say di Maumere, Pelabuhan Labuan Bajo, dan Pelabuhan Multipurpose Wae Kelambu. Kerusakan yang ditemukan mencakup dermaga roboh, kerusakan bangunan terminal penumpang, serta retakan pada sejumlah struktur.

PelabuhanLokasiKondisi yang Dilaporkan
Laurentius SayMaumereArea pelabuhan diamankan saat KM Bukit Siguntang sedang sandar.
Labuan BajoLabuan BajoTerdapat retakan pada tembok dan dermaga.
Multipurpose Wae KelambuWae KelambuTerdapat retakan pada bangunan kantor dan gudang.

Saat gempa mengguncang, KM Bukit Siguntang sedang berada di dermaga Pelabuhan Laurentius Say. Direktorat Jenderal Perhubungan Laut kemudian melakukan pengamanan terhadap kapal, penumpang, awak kapal, petugas, dan area pelabuhan yang terdampak.

Masyhud menyatakan langkah pengamanan segera dilakukan ketika kapal masih bersandar. “Saat kejadian, kapal KM Bukit Siguntang sedang sandar di dermaga pelabuhan,” ujar Masyhud.

Dampak Meluas ke Sejumlah Titik di NTT

Dampak gempa juga tercatat di Pelabuhan Marapokot, tempat causeway dan dermaga mengalami penurunan elevasi. Pagar pembatas di pelabuhan tersebut turut dilaporkan runtuh.

Kerusakan ringan hingga sedang juga ditemukan di Pelabuhan Reo, Ende, dan Waingapu. Sementara itu, Pelabuhan Larantuka dilaporkan aman tanpa kerusakan.

Gangguan pada pelabuhan sempat memengaruhi perjalanan wisata di kawasan Labuan Bajo yang dibatalkan sementara. Pelayaran kembali dibuka setelah peringatan dini tsunami dari BMKG dicabut dan fasilitas pelabuhan dinyatakan aman digunakan.

Pengawasan lanjutan diperlukan karena kondisi tiap fasilitas tidak sama dan sebagian struktur masih harus melalui penilaian teknis. Aktivitas pelayaran di NTT tetap diarahkan berjalan dengan prinsip kehati-hatian sampai keamanan fasilitas dipastikan.

Baca Juga