Dari Data Gagal hingga Publikasi Q1, Mahasiswa ITB Ini Menemukan Titik Balik

Perbedaan resistivitas hingga 56 kali lipat pada sampel berkomposisi identik menjadi salah satu hasil penting riset M Fauzan Adhiima, mahasiswa Fisika Institut Teknologi Bandung. Temuan tersebut mengarahkan penelitian pada peran topologi kontak dalam bubuk Fe-Zn, bukan hanya komposisi materialnya.

Hasil riset itu kemudian dimuat dalam artikel ilmiah yang terindeks Q1 Elsevier. Artikel berjudul Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology itu terbit pada 4 Agustus 2026 di Volume 485 Part 1.

Capaian tersebut tidak datang dari proses yang singkat dan mulus. Fauzan sempat menghadapi kegagalan material, data pengukuran yang tidak konsisten, persoalan kalibrasi, serta tuntutan tambahan dari penelaah naskah.

Enam Bulan Pengukuran Manual

Sebelum menggunakan alat otomatis, Fauzan melakukan pengukuran secara manual selama enam bulan, dari Juni hingga November 2025. Setiap sampel harus ditimbang, ditekan, diukur ketebalannya, lalu hasilnya dicatat dengan tangan.

Pada Desember 2025, ia merancang dan merakit CAAI 2013 dari nol untuk mengotomatisasi pengukuran resistivitas bubuk. Perangkat itu dibuat guna membantu proses kerja yang sebelumnya memerlukan tahapan berulang secara manual.

PeriodeTahapHasil atau Tantangan
Mei 2025Uji material awalMaterial pertama gagal karena data tidak konsisten, lalu riset beralih ke bubuk Fe-Zn.
Juni–November 2025Pengukuran manualSampel ditimbang, ditekan, diukur ketebalannya, dan dicatat secara manual.
Desember 2025Pembuatan alatCAAI 2013 dirancang sebagai alat ukur resistivitas bubuk otomatis.
Januari–Maret 2026Kalibrasi ketebalanKalibrasi berulang kali gagal hingga digunakan koreksi matematis pascapengukuran.
Maret–Mei 2026Analisis konfigurasiDitemukan asimetri resistivitas hingga 56 kali lipat.
Mei–Agustus 2026Revisi naskahBukti alternatif menggantikan permintaan pengujian XPS dan TEM.

Tantangan paling berat berikutnya muncul ketika kalibrasi ketebalan tidak kunjung berhasil selama tiga bulan, dari Januari hingga Maret 2026. Persoalan itu akhirnya diatasi melalui koreksi matematis yang diterapkan setelah pengukuran dilakukan.

Fauzan juga harus merespons permintaan pengujian XPS dan TEM saat proses penelaahan naskah. Karena fasilitas tersebut tidak tersedia di laboratorium, ia mencari bukti alternatif selama tiga pekan dan pendekatan itu diterima oleh penelaah.

Arah Baru di Semester 4

Ketertarikan Fauzan pada Fisika Eksperimen tumbuh ketika memasuki semester 4 melalui mata kuliah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika. Pada fase itu, ia menemukan bidang yang memungkinkan objek dan proses fisika dipegang, diukur, serta dibangun sendiri.

ITB merupakan pilihan kedua Fauzan ketika ia masuk Program Studi Fisika FMIPA. Pada tahun pertama dalam Tahap Persiapan Bersama, ia mengakui kemampuan dasar sainsnya tertinggal sehingga harus beradaptasi dengan ritme perkuliahan.

Nilai indeks prestasi 2,39 pada masa awal kuliah juga sempat menjadi bagian dari perjalanan akademiknya. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkahnya untuk menekuni penelitian secara bertahap hingga menghasilkan Publikasi Q1.

Menurut unggahan FMIPA ITB yang dikutip detik.com, Fauzan lebih menikmati pencarian jawaban melalui percobaan dibanding sekadar rumus yang elegan. “Kesenangannya bukan pada rumus yang elegan, tetapi pada proses mencoba, gagal, mencoba lagi-sampai solusi ditemukan,” kata Fauzan.

Belajar Menerima Proses Riset

Penelitian awal Fauzan pada Mei 2025 tidak langsung menghasilkan data yang dapat digunakan. Atas saran pembimbingnya, Prof Dr Eng Muhammad Miftahul Munir, SSi, MSi, ia mengganti sistem material dan melanjutkan pengujian menggunakan bubuk Fe-Zn.

Bagi Fauzan, nilai akademik yang rendah pada awal kuliah bukan penanda akhir perjalanan. Ia memandang pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan minatnya.

“Anggap semuanya sebagai perjalanan dari ceritamu sendiri. Nikmati perjalanannya. Ada kalanya kita tertawa, ada kalanya kita bersedih. Keduanya bagian dari cerita yang sama,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menghubungkan aktivitas dengan hal yang disukai agar dapat bertahan saat riset berulang kali menemui hambatan. Fauzan juga mengingatkan perlunya berani salah, mengenali emosi, memahami kondisi mental dan fisik, serta mengevaluasi kegiatan secara rutin.

Baca Juga