Investasi Rp1 Triliun Kini Hanya Serap 1.200 Pekerja, Alarm di Balik Pertumbuhan 5,45%

Setiap investasi senilai Rp1 triliun kini diperkirakan hanya menciptakan sekitar 1.200 pekerjaan. Angka tersebut jauh di bawah daya serap investasi pada 2014 yang dapat menghasilkan hingga sekitar 3.500 pekerjaan dengan nilai investasi yang sama.

Penurunan daya serap itu menjadi perhatian di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai sekitar 5,45% pada semester I 2026. Kenaikan angka makroekonomi belum otomatis menandakan bertambahnya kesempatan kerja yang lebih baik bagi masyarakat luas.

Daya Serap Investasi Terus Menyusut

Perbandingan antara 2014 dan kondisi saat ini menunjukkan perubahan besar pada kemampuan investasi dalam membuka pekerjaan baru. Penurunan tersebut tetap dinilai signifikan bahkan setelah memperhitungkan faktor inflasi.

PeriodeNilai InvestasiPerkiraan Pekerjaan Tercipta
2014Rp1 triliunHingga sekitar 3.500 pekerjaan
KiniRp1 triliunSekitar 1.200 pekerjaan

Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menilai arah investasi Indonesia semakin condong pada investasi padat modal. Pola ini dapat menaikkan nilai investasi, tetapi tidak selalu diikuti penyerapan tenaga kerja dalam jumlah sebanding.

Sektor padat karya masih dibutuhkan karena struktur ketenagakerjaan Indonesia memerlukan penciptaan pekerjaan dalam skala besar. Karena itu, nilai investasi saja belum cukup untuk mengukur dampaknya terhadap pasar kerja.

Pekerjaan Informal Mendominasi

Persoalan lain terlihat pada jenis pekerjaan yang terbentuk ketika tingkat pengangguran relatif rendah. Yose menyebut sebagian besar pekerjaan baru justru berada di sektor informal dengan porsi mencapai sekitar 80%.

Dominasi sektor informal membuat angka pengangguran perlu dibaca bersama kualitas pekerjaan yang tersedia. Perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah tenaga kerja yang terserap, melainkan juga pada kemampuan pekerjaan itu memberi peluang bagi pekerja dari berbagai latar pendidikan.

Pengangguran terdidik juga disebut terus menunjukkan kecenderungan meningkat. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya tantangan dalam menyerap tenaga kerja yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi.

Dalam acara The Forum di HQ B-Universe, PIK2, Tangerang, Selasa (18/8/2026), Yose mengatakan, “Pengangguran itu rendah tetapi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tercipta adanya di sektor informal, bahkan 80 persen.” Ia juga menyoroti bahwa pengangguran terdidik “makin hari makin besar”.

Pertumbuhan Perlu Menghasilkan Pekerjaan Lebih Baik

Pertumbuhan ekonomi tetap menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kinerja perekonomian nasional. Namun, manfaatnya perlu terlihat lebih nyata melalui perluasan lapangan kerja berkualitas yang dapat dirasakan masyarakat.

Kebijakan ekonomi, menurut Yose, tidak cukup berhenti pada upaya mengejar pertumbuhan yang tinggi. Pemerintah juga perlu memastikan investasi yang masuk memiliki kemampuan lebih kuat untuk menciptakan pekerjaan baru.

Perbaikan kualitas investasi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperluas sektor yang mampu menyerap tenaga kerja. Ukuran keberhasilan pertumbuhan, dengan demikian, tidak hanya berada pada persentase pertumbuhan, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

“Kalau pertumbuhannya tersebut hanya dalam angka, tidak terlihat hasilnya, itu bukan yang kita tuju,” kata Yose. Pernyataan itu menegaskan pentingnya menghubungkan pertumbuhan ekonomi dengan kesempatan kerja yang lebih luas dan lebih layak.

Baca Juga