Dukungan Trump Menyentuh Titik Terendah, Iran dan Biaya Hidup Jadi Tekanan

Tingkat persetujuan publik terhadap Presiden Donald Trump turun menjadi 33%, menyamai level terendah yang pernah dicatat selama masa jabatan pertamanya. Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan 64% responden tidak menyetujui cara Trump menjalankan pemerintahan di Gedung Putih.

Penurunan dukungan itu terjadi ketika tekanan ekonomi dan kekhawatiran atas ketegangan dengan Iran sama-sama membebani penilaian masyarakat. Angka terbaru tersebut turun dari 35% dalam survei yang dilakukan pada awal bulan.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos berlangsung selama empat hari dan berakhir pada Senin (17/8). Hasilnya menempatkan tingkat persetujuan Trump kembali pada posisi yang sebelumnya tercatat pada Desember 2017.

Tekanan Ekonomi Menguat

Keluhan tentang biaya hidup menjadi salah satu faktor yang menambah beban politik bagi Trump. Jajak pendapat Financial Times yang dirilis pada Minggu (16/8) mendapati 53% pemilih AS merasa kondisi mereka memburuk di bawah kepemimpinannya.

Temuan tersebut menggambarkan bahwa persoalan sehari-hari, termasuk harga makanan, bahan bakar, dan layanan kesehatan, turut memengaruhi persepsi publik. Kekhawatiran ekonomi itu muncul bersamaan dengan perhatian terhadap arah kebijakan luar negeri Washington.

SurveiTemuan UtamaWaktu
Reuters/Ipsos33% setuju, 64% tidak setujuBerakhir Senin (17/8)
Financial Times53% pemilih merasa kondisi memburukDirilis Minggu (16/8)

Senior Fellow Brookings Institution, Darrell West, menilai inflasi telah melampaui kenaikan upah. Menurut dia, situasi itu membuat banyak warga kesulitan membayar tagihan dan merasa tertinggal oleh lonjakan harga kebutuhan pokok.

“Inflasi melampaui kenaikan upah dan masyarakat mengalami kesulitan membayar tagihan mereka,” kata West kepada Xinhua. Ia menambahkan bahwa kenaikan biaya makanan, bahan bakar, dan layanan kesehatan semakin sulit diikuti banyak warga.

Iran Menjadi Latar Ketidakpastian

Di sisi lain, penurunan persetujuan Trump berlangsung ketika kekhawatiran masyarakat atas konflik AS dengan Iran menguat. Survei Reuters/Ipsos dirilis saat masa negosiasi 60 hari antara kedua negara dijadwalkan berakhir tanpa kemajuan menuju kesepakatan perdamaian yang lebih luas.

Periode perundingan tersebut didasarkan pada memorandum of understanding atau MoU. Berakhirnya masa itu tanpa kemajuan menempatkan kebijakan Trump terhadap Iran sebagai konteks penting dalam penilaian publik.

Trump sebelumnya berupaya meredakan kecemasan mengenai tingginya harga bahan bakar dalam rapat umum politik di Garden City, New York, pada Jumat (14/8). Ia mengaitkan biaya bensin dengan upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut harga bensin yang “sedikit lebih mahal” sebagai biaya yang sepadan untuk memastikan “negara yang sangat jahat” tidak dapat memiliki senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan ketika ketidakpuasan atas ekonomi domestik terus meningkat.

Gabungan isu Iran, harga bahan bakar, inflasi, dan biaya hidup mempersempit ruang Trump untuk mempertahankan kepercayaan publik. Data terbaru memperlihatkan penilaian terhadap kepemimpinannya berada kembali di titik terendah yang pernah tercatat.

Baca Juga