Saat Kemiskinan Alor Bertahan di 19,87 Persen, Tiga Tahap Pertanian Dipertaruhkan

Kemiskinan di Kabupaten Alor masih menyentuh 19,87 persen pada 2024 atau sekitar 41,89 ribu jiwa. Pemerintah menempatkan program pertanian tiga tahap sebagai upaya untuk mengubah bantuan menjadi produksi dan pendapatan warga.

Rencana tersebut tidak hanya bergantung pada penyaluran benih, alat, atau bantuan pangan. Keberhasilannya ditentukan oleh pengawalan distribusi hingga pemanfaatan sarana produksi di lokasi pertanian.

Pengawasan Menjadi Titik Kritis

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menginstruksikan pengawasan ketat agar bantuan diterima pihak yang berhak dan digunakan sesuai peruntukannya. Alat serta bahan pertanian juga harus dirawat agar menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Yang penting pengawalan bantuan itu sampai kepada penerima, sampai kepada lokasi, dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya, dirawat, dan memberikan hasil yang nyata bagi masyarakat,” kata Andi Amran Sulaiman. Ia menegaskan strategi pendek, menengah, dan panjang itu ditujukan untuk menekan kemiskinan.

Dewan Penasehat Ikatan Keluarga Alor Jabodetabek menyatakan siap ikut mengawasi bantuan dari pusat hingga ke lahan sasaran. Ketua Dewan Penasehat Syahrir Ika mengatakan organisasi tersebut akan membantu menjaga bantuan dan merawat bibit yang diserahkan.

“Kami harus memastikan bahwa bantuan itu tidak boleh menyimpang sehingga target pemerintah itu bisa berhasil,” ujar Syahrir Ika. Pengawasan dipandang penting untuk menjaga agar bantuan mendukung peningkatan produksi pertanian di Alor.

Tiga Tahap dari Pangan hingga Perkebunan

Pemerintah menyusun tahapan program berdasarkan kebutuhan mendesak dan peluang pendapatan yang lebih berkelanjutan. Tahap awal berfokus pada pangan, kemudian diperluas ke jagung dan komoditas perkebunan yang dinilai sesuai dengan kondisi wilayah Alor.

Tahap ProgramFokusRencana Utama
Jangka pendekKetahanan pangan dan hasil cepatLahan padi 3.000 hektare, benih, alsintan, dan bantuan pangan
Jangka menengahPerluasan sumber pendapatanPengembangan jagung di lahan 3.000 hektare
Jangka panjangPenguatan perkebunanKelapa, kakao, dan jambu mete

Pada tahap jangka pendek, pemerintah menyiapkan pengerjaan lahan padi seluas 3.000 hektare. Petani juga akan memperoleh bantuan benih serta alat dan mesin pertanian untuk menopang peningkatan produksi.

Skema itu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus memberi hasil yang relatif cepat bagi petani. Amran menyatakan tujuan program tidak berhenti pada hasil panen semata.

“Tujuan utamanya pengatasan kemiskinan juga. Justru kemiskinan target kita,” kata Amran. Pemerintah berupaya menghubungkan dukungan pertanian dengan kenaikan produksi dan penghasilan masyarakat secara langsung.

Bantuan Pangan Menjadi Penyangga Awal

Alor juga mendapat bantuan pangan reguler sebanyak 1.120,14 ton untuk alokasi Juli hingga September 2026. Nilai bantuan tersebut mencapai Rp15,68 miliar.

Bantuan pangan diposisikan sebagai penyangga kebutuhan warga ketika lahan pertanian mulai dikerjakan. Pemenuhan pangan diharapkan berjalan bersamaan dengan penggerakan produksi lokal.

Pada tahap menengah, pengembangan jagung direncanakan di lahan seluas 3.000 hektare. Komoditas ini diproyeksikan membuka pilihan sumber pendapatan bagi petani di luar tanaman pangan utama.

Untuk jangka panjang, pemerintah mengarahkan pengembangan kelapa, kakao, dan jambu mete. Ketiga komoditas perkebunan tersebut dipilih karena dinilai cocok dengan kondisi wilayah Alor.

“Strategi jangka dekat difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pangan sekaligus menggerakkan produksi yang dapat memberikan hasil relatif cepat,” ujar Amran. Ketua Umum Ikatan Keluarga Alor Sejahtera Jabodetabek, Gery Bantara, menilai Alor berpeluang keluar dari garis kemiskinan dalam satu sampai lima tahun bila program berjalan efektif.

Baca Juga