Investor asing membukukan pembelian bersih saham BBCA senilai Rp788,53 miliar dalam tiga pekan, ketika harga saham bank tersebut justru melemah. Pada penutupan perdagangan 14 Agustus 2026, BBCA turun 0,39% ke level Rp6.350.
Kontras itu terjadi saat valuasi BBCA berada di bawah rerata historisnya. Stockbit Sekuritas mencatat rasio price to book value atau PBV BBCA berada pada 2,89 kali, lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebesar 4,3 kali.
Kinerja Semester I Menopang Perhatian Pasar
Fundamental PT Bank Central Asia Tbk tetap menunjukkan ketahanan pada semester I-2026. Perseroan membukukan laba bersih Rp29,5 triliun, naik 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai kinerja laba BBCA masih resilien. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan laba operasional sebelum pencadangan atau PPOP sebesar 2,5% secara tahunan.
Pendapatan non-bunga menjadi salah satu penyangga saat pendapatan bunga bersih atau NII melemah dan net interest margin menghadapi tekanan. Faktor ini membantu perseroan menahan dampak tekanan pada pendapatan dari bunga.
| Indikator Semester I-2026 | Realisasi | Pertumbuhan/Posisi |
|---|---|---|
| Laba bersih | Rp29,5 triliun | Naik 1,8% yoy |
| Penyaluran kredit | Rp1.035,6 triliun | Naik 8% yoy |
| Kredit korporasi | Rp513,4 triliun | Naik 13,6% yoy |
| Dana murah CASA | Rp1.082,3 triliun | Naik 10,2% yoy |
Penyaluran kredit BCA mencapai Rp1.035,6 triliun atau meningkat 8% secara tahunan pada semester pertama tahun ini. Kredit korporasi menjadi penggerak utama dengan pertumbuhan 13,6% menjadi Rp513,4 triliun, sementara pembiayaan kendaraan bermotor di segmen konsumer melambat.
Dari sisi pendanaan, dana murah atau CASA naik 10,2% secara tahunan menjadi Rp1.082,3 triliun. Kualitas aset juga terjaga dengan rasio kredit bermasalah bruto sebesar 1,9% dan loan at risk di level 4,9%.
Target Harga dan Risiko yang Dicermati
Mandiri Sekuritas merekomendasikan beli saham BBCA untuk strategi swing trade dengan target harga jangka pendek Rp7.000. Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian pasar terhadap valuasi yang kini lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.
Kiwoom Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga 12 bulan Rp8.075. Meski demikian, sekuritas tersebut mengingatkan adanya risiko tekanan net interest margin serta persaingan penghimpunan dana.
Akumulasi Asing Berlangsung Tiga Pekan
Arus beli investor luar negeri berlangsung sejak 27 Juli hingga 14 Agustus 2026. Data yang dilansir Investor Daily menunjukkan pembelian bersih pada saham BBCA terjadi selama tiga pekan berturut-turut.
| Periode | Net Buy Asing BBCA |
|---|---|
| Pekan terakhir Juli 2026 | Rp426,56 miliar |
| Pekan pertama Agustus 2026 | Rp140,13 miliar |
| 10-14 Agustus 2026 | Rp221,84 miliar |
| 27 Juli-14 Agustus 2026 | Rp788,53 miliar |
Pembelian terbesar terjadi pada pekan terakhir Juli dengan nilai Rp426,56 miliar. Minat asing kemudian tetap berlanjut pada pekan pertama Agustus dan periode 10-14 Agustus, meski nominalnya lebih kecil.
Akumulasi dana asing belum serta-merta mendorong harga saham menguat pada perdagangan terakhir periode tersebut. Pergerakan BBCA tetap akan dipengaruhi dinamika pasar, kinerja fundamental, tekanan margin bunga, serta persaingan dana di industri perbankan.






