Rupiah Jadi Penentu Yield SBN 6,9 Persen, Pasar Masih Bertahan di 7,2 Persen

Target yield SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen dalam RAPBN 2027 masih dinilai realistis, tetapi pencapaiannya sangat bergantung pada stabilitas rupiah dan arah suku bunga global. Saat ini, yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun masih berada di kisaran 7,2 persen di pasar.

Selisih antara asumsi pemerintah dan level pasar tersebut memang belum lebar, yakni sekitar 25 hingga 30 basis poin. Namun, rupiah yang tetap tertekan dapat mempersempit peluang penurunan yield karena pasar akan meminta premi risiko yang lebih tinggi.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia atau Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai angka 6,9 persen perlu dipahami sebagai rata-rata tahunan. Asumsi itu digunakan pemerintah untuk menghitung biaya bunga utang dalam RAPBN 2027, bukan sebagai sasaran yield yang harus dicapai pada akhir tahun.

Pemerintah menetapkan asumsi yield tersebut pada 17 Agustus 2026 saat menyampaikan rancangan anggaran tahun depan. Core Indonesia memperkirakan yield SUN tenor 10 tahun selama 2027 akan bergerak dalam rentang 6,7 persen hingga 7,4 persen.

IndikatorAngkaKeterangan
Asumsi yield SBN 10 tahun6,9 persenRata-rata tahunan RAPBN 2027
Yield SUN 10 tahun di pasar7,2 persenLevel saat ini
Proyeksi Core Indonesia6,7–7,4 persenRentang pergerakan pada 2027
Rata-rata proyeksi Core Indonesia7,0–7,1 persenPerkiraan rata-rata 2027

Inflasi Membuka Ruang Penurunan

Ruang penurunan imbal hasil masih terbuka karena inflasi domestik dinilai terkendali. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88 persen, sedangkan inflasi inti berada pada level 2,76 persen.

Kondisi tersebut membuat imbal hasil riil SBN tetap relatif tinggi dan mendukung daya tarik obligasi pemerintah. Meski demikian, inflasi bukan satu-satunya faktor yang membentuk pergerakan yield di pasar.

“Ruang penurunan yield sebenarnya ada, tetapi sangat bergantung pada arah suku bunga global dan kebijakan BI,” kata Yusuf Rendy Manilet. Kebijakan Bank Indonesia akan memengaruhi persepsi investor terhadap instrumen utang pemerintah berdenominasi rupiah.

Faktor eksternal juga penting karena pasar obligasi domestik sensitif terhadap ekspektasi perubahan suku bunga global. Penurunan suku bunga global yang berjalan sesuai harapan dapat memberi ruang bagi yield SBN untuk turun lebih jauh.

Risiko Kurs dan Kebutuhan Pembiayaan

Perhatian pasar turut tertuju pada asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 sebesar Rp17.500 per dolar AS. Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Stabilitas rupiah menjadi penting karena pelemahan kurs berpotensi meningkatkan premi risiko nilai tukar dalam pembentukan yield SBN. Yusuf menilai kondisi rupiah yang lebih stabil diperlukan agar target rata-rata 6,9 persen dapat lebih mudah dicapai.

“Jika rupiah tetap lemah, ruang penurunan yield akan lebih terbatas karena premi risiko nilai tukar masih menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan yield SBN,” ujar Yusuf. Tanpa perbaikan kurs dan pelonggaran suku bunga global, yield berpeluang bertahan lebih dekat ke level 7 persen.

Dari sisi fiskal, target defisit APBN 2027 sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto dapat membantu meredakan tekanan pasokan SBN. Pasar dapat melihat kebutuhan penerbitan surat utang pemerintah secara lebih terukur apabila target defisit tersebut terjaga.

Namun, risiko fiskal belum sepenuhnya hilang karena pemerintah menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 12,1 persen. Kebutuhan refinancing surat utang yang jatuh tempo juga dapat memengaruhi kebutuhan pembiayaan dan penerbitan obligasi pemerintah.

Respons investor setelah penyampaian RAPBN 2027 menunjukkan kehati-hatian masih terasa terutama pada obligasi bertenor panjang. Pasar dinilai lebih cepat merespons ekspektasi penurunan suku bunga pada instrumen berjangka pendek.

Perhatian terdekat pasar tertuju pada lelang SUN 18 Agustus 2026, sehari sebelum keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026. Lelang tersebut diperkirakan menyerap penawaran sekitar Rp60 triliun hingga Rp75 triliun.

Untuk obligasi acuan tenor 10 tahun, yield yang dimenangkan diperkirakan berada pada kisaran 7,25 persen hingga 7,35 persen. Yusuf menilai tenor 5 hingga 10 tahun lebih menarik bagi investor karena menawarkan carry yang tetap menarik dengan risiko durasi yang lebih terkendali.

Baca Juga