Target Bursa Mineral 2027 Dinilai Terlalu Ambisius, CORE Usul Mulai 1-2 Komoditas

Pembukaan Bursa Mineral dan komoditas strategis pada 2027 dinilai berisiko sulit membangun likuiditas apabila sejak awal menampung terlalu banyak produk. Ekonom Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengusulkan perdagangan perdana dibatasi pada satu hingga dua komoditas.

Pilihan komoditas awal akan menentukan kemampuan bursa membentuk transaksi yang aktif dan kredibel. Menurut Yusuf, peluncuran serentak untuk seluruh komoditas yang direncanakan pemerintah merupakan target yang cukup ambisius.

Likuiditas Menjadi Tantangan Awal

Bursa yang memuat banyak komoditas memerlukan partisipasi penjual dan pembeli dalam jumlah memadai pada setiap produk. Tanpa transaksi yang aktif, pembentukan harga referensi akan menghadapi tantangan sejak masa awal operasional.

Pendekatan bertahap dinilai dapat memberi ruang bagi pengelola untuk membangun kedalaman pasar secara lebih terukur. Langkah tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kepercayaan pelaku usaha terhadap mekanisme perdagangan yang baru.

BMKS dirancang sebagai instrumen pembentukan Indonesia Reference Price bagi sejumlah komoditas strategis. Pemerintah menargetkan bursa ini mulai beroperasi pada 1 Januari 2027.

WaktuAgenda atau PihakInformasi Utama
14 Agustus 2026Jumpa pers OJKSejumlah mineral dan komoditas untuk BMKS disebut telah ditetapkan, tetapi rinciannya belum dibuka.
1 Januari 2027Target pemerintahBMKS ditargetkan beroperasi untuk mendukung pembentukan harga referensi Indonesia.

NPI Dinilai Memiliki Peluang

Yusuf menyarankan agar tahap pertama memprioritaskan produk yang memiliki posisi kuat bagi Indonesia dalam pasar global. Komoditas itu juga sebaiknya belum memiliki harga acuan global yang dominan.

Nickel pig iron atau NPI menjadi salah satu opsi yang disebut layak dipertimbangkan. Posisi Indonesia dalam rantai pasok NPI dinilai membuka peluang untuk membangun tolok ukur harga baru.

Komoditas lain yang dipersiapkan masuk ke BMKS mencakup sawit, nikel, timah, batu bara, emas, kopi, dan karet. Namun, memasukkan seluruh produk tersebut pada waktu bersamaan dinilai dapat memperberat pembentukan likuiditas di masing-masing pasar.

Yusuf menilai NPI lebih menarik dibandingkan komoditas yang telah memiliki patokan harga mapan selama puluhan tahun. “Produk seperti nickel pig iron lebih menarik karena kita bisa membangun tolok ukur baru, bukan langsung berhadapan dengan benchmark yang sudah puluhan tahun digunakan,” tuturnya, seperti dikutip Beritasatu.com pada 17 Agustus 2026.

Bukan Jalan Pintas Menaikkan Harga

Keberadaan bursa tidak otomatis membuat harga komoditas Indonesia menjadi lebih tinggi. Manfaat utamanya justru diharapkan muncul melalui tata kelola perdagangan yang lebih terbuka dan data transaksi yang lebih kredibel.

Transparansi transaksi berpotensi mempersempit ruang praktik under-invoicing atau kurang faktur. Kondisi tersebut dapat membantu memperbaiki basis pengenaan pajak sekaligus menekan biaya transaksi perdagangan komoditas.

Dalam ekosistem yang ditargetkan, produsen, petani, eksportir, pembeli, dan investor dapat bertemu melalui pasar yang lebih dalam serta likuid. Data harga yang terbentuk dari transaksi terbuka diharapkan menjadi dasar referensi yang lebih dapat dipercaya.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, sebelumnya menyatakan sejumlah mineral dan komoditas untuk BMKS telah ditetapkan. Perinciannya belum disampaikan karena masih menunggu peraturan presiden sebagai dasar penyelenggaraan bursa.

Karena itu, penetapan komoditas perdana menjadi keputusan penting sebelum BMKS mulai beroperasi. Produk yang tepat dapat membantu Indonesia membangun harga referensi tanpa langsung bersaing dengan patokan global yang telah lama digunakan.

Baca Juga