Harga emas dunia berpeluang bergerak hingga US$ 4.572 per troy ounce dalam sepekan apabila ketegangan geopolitik mendorong kembali permintaan aset lindung nilai. Namun, arah sebaliknya juga terbuka karena harga dapat terkoreksi sampai US$ 4.186 per troy ounce.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pasar emas berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan konflik global dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Rentang proyeksi yang lebar menunjukkan pelaku pasar perlu mencermati perubahan sentimen sejak awal perdagangan pekan.
Bank Sentral Menjadi Penopang Permintaan
Permintaan emas bank sentral global menjadi salah satu faktor yang diperhatikan di tengah gejolak pasar. Pada semester pertama, permintaan dari bank-bank sentral global disebut mencapai 1.269 ton.
Ibrahim menilai koreksi harga emas ketika risiko geopolitik meningkat dapat menjadi acuan bagi bank sentral untuk memperluas cadangan logam mulia. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari kebutuhan lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Selain permintaan institusi, minat investor terhadap emas juga dapat meningkat ketika kondisi politik dan keamanan memburuk. Emas kerap menjadi perhatian pelaku pasar sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian bertambah.
Dua Skenario Pergerakan Harga
| Skenario | Proyeksi Hari Senin | Potensi dalam Sepekan |
|---|---|---|
| Harga melemah | US$ 4.279 per troy ounce | US$ 4.186 per troy ounce |
| Harga menguat | US$ 4.479 per troy ounce | US$ 4.572 per troy ounce |
Dalam skenario pelemahan, harga emas diperkirakan menuju US$ 4.279 per troy ounce pada hari Senin. Jika tekanan jual berlanjut, nilainya berpotensi turun ke US$ 4.186 per troy ounce dalam sepekan.
“Apabila harga emas kembali turun di hari Senin kemungkinan akan ke level US$ 4.279 dan (penurunan) dalam sepekan bisa berlanjut ke US$ 4.186 per troy ounce,” ujar Ibrahim. Sebaliknya, penguatan permintaan dapat membawa harga ke US$ 4.479 pada hari Senin sebelum menuju US$ 4.572 dalam sepekan.
Risiko Konflik di Timur Tengah
Geopolitik Timur Tengah menjadi perhatian utama karena ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menciptakan ketidakpastian. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengklaim kemenangan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran, sedangkan Iran mendesak AS mengakui kekalahan.
Risiko regional juga bertambah setelah kelompok militan Houthi di Yaman menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Potensi gangguan pada jalur pelayaran penting tersebut menjadi perkembangan yang dicermati pasar.
Konflik di Eropa Timur turut menambah lapisan risiko global bagi pergerakan emas. Serangan terhadap kota-kota besar di Ukraina disebut melemahkan kemampuan militer Ukraina untuk melancarkan serangan balik.
“Kalau seandainya geopolitik memanas tanpa adanya blokade, termasuk di Selat Hormuz dan Laut Merah akan membuat harga emas dunia melonjak tinggi,” kata Ibrahim. Pernyataan itu menempatkan eskalasi konflik sebagai pemicu utama yang dapat mengangkat harga logam mulia.
Arah Kebijakan The Fed
Pasar juga menantikan dampak kebijakan Federal Reserve terhadap ekspektasi ekonomi Amerika Serikat. Ibrahim menyoroti data inflasi utama dan penjualan ritel AS yang positif, meski inflasi belum mencapai target 2%.
Perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter AS dapat memengaruhi minat investor pada emas. Analisis rentang pergerakan harga emas tersebut dilansir Investor Daily.






