Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia memperkirakan Kartu Kredit Indonesia atau KKI dapat mengalihkan hingga 10 persen transaksi kartu kredit konvensional ke skema domestik. Peralihan itu ditopang oleh koneksi KKI dengan QRIS, yang pada tahap awal menjadi jalur utama penggunaan kartu kredit digital tersebut.
Potensi pergeseran ini muncul ketika pangsa kartu kredit di industri disebut tersisa sekitar 15 persen. Adopsi QRIS yang meluas dalam transaksi masyarakat menjadi salah satu latar belakang pengembangan instrumen kredit domestik itu.
Target Peralihan dari Pangsa Kartu Kredit
Ketua ASPI Santoso Liem mengatakan KKI yang diperkenalkan melalui QRIS diharapkan menarik sebagian transaksi dari porsi kartu kredit yang masih ada. Menurutnya, target peralihan dapat mencapai 10 persen dari pangsa pasar tersebut.
“Jadi kita harapkan dengan kartu kredit KKI ini sudah mulai di-introduce dengan QRIS, kita harapkan di antara 15 persen itu, mungkin 10 persen akan pindah,” kata Santoso. Pernyataan itu menunjukkan KKI diproyeksikan sebagai alternatif domestik, bukan sekadar tambahan metode pembayaran baru.
Skema ini juga ditempatkan dalam agenda penguatan infrastruktur pembayaran nasional. KKI dirancang sebagai instrumen pembayaran tunda yang dapat dipakai oleh individu maupun korporasi.
Dimulai dari Kartu Digital
Pada fase perdana, KKI ritel tersedia dalam bentuk kartu digital. Pengguna dapat memakainya melalui QRIS pindai dan QRIS nirsentuh untuk bertransaksi.
Pengembangan dilakukan secara bertahap sehingga layanan ini belum mencakup seluruh pola penggunaan kartu kredit yang selama ini dikenal masyarakat. Pembayaran daring dan penerbitan kartu fisik akan menjadi tahapan berikutnya.
| Tahap | Bentuk dan Fitur |
|---|---|
| Tahap awal | Kartu digital untuk QRIS pindai dan QRIS nirsentuh |
| Pengembangan berikutnya | Pembayaran daring |
| Tahap lanjutan | Penerbitan kartu fisik |
Fokus pada QRIS membuat penggunaan awal KKI diarahkan pada transaksi digital di ekosistem pembayaran nasional. Tahapan ini sekaligus membedakan KKI dari kartu kredit konvensional yang telah tersedia dalam bentuk fisik dan penggunaan yang lebih luas.
Bank Indonesia menilai pendekatan bertahap diperlukan agar pengembangan layanan dapat dilakukan secara hati-hati. Integrasi dengan QRIS menjadi pintu awal sebelum perluasan fungsi ke kanal pembayaran lain.
Sejumlah Bank Masuk Tahap Perdana
Sejumlah Penyelenggara Jasa Pembayaran terlibat dalam peluncuran awal KKI ritel. Bank yang ikut serta meliputi BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga, Permata Bank, Bank Mega, dan BSI.
BSI terlibat untuk skema pembiayaan syariah. Keterlibatan sejumlah bank tersebut menempatkan KKI sebagai instrumen kredit domestik yang terhubung dengan sistem pembayaran nasional.
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Ryan Rizaldy mengatakan KKI ritel diarahkan untuk menjangkau pengguna sumber dana kredit, terutama generasi Z dan milenial. Kedua kelompok itu dinilai semakin dominan dalam lanskap transaksi non-tunai.
“Paling tidak pangsa masyarakat yang saat ini memang akhir-akhir ini terutama yang digerakkan oleh generasi Z dan generasi milenial, pengguna sumber dana kredit ini bisa masuk ke dalam KKI segmen ritel ini,” ujar Ryan di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (17/8). Sasaran tersebut memperlihatkan bahwa KKI ingin masuk ke kebiasaan transaksi digital kelompok pengguna yang aktif menggunakan pembayaran non-tunai.
Alternatif Kredit dalam Ekosistem Domestik
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti menyebut kehadiran KKI ritel sebagai wujud kedaulatan sistem pembayaran nasional. Ia juga menilai instrumen itu dapat membantu menopang daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Kehadiran skema domestik ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem digital dan menyediakan alternatif fasilitas kredit untuk menopang konsumsi masyarakat,” tutur Destry. Dengan demikian, pengembangan KKI tidak hanya menyasar perubahan cara bertransaksi, tetapi juga perluasan akses fasilitas kredit bagi konsumen dan pelaku usaha.
Bagi pengguna, layanan KKI masih berada dalam tahap awal dan berfokus pada transaksi QRIS melalui kartu digital. Perluasan ke pembayaran daring serta kartu fisik akan mengikuti pengembangan sistem secara bertahap.






