Rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen hingga berada di level Rp17.806 per dolar AS dalam perdagangan spot pada Senin, 17 Agustus 2026. Pergerakan ini terjadi saat dolar AS tertekan oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan aktivitas domestik.
Pasar menaruh perhatian besar pada perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat. Data konsumen yang melemah membuat spekulasi kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed mulai mereda.
Penguatan mata uang Garuda juga mendapat konteks dari sentimen domestik yang berkembang setelah Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai penyampaian mengenai APBN 2027 secara teori memberikan respons positif terhadap rupiah.
“Pidato kenegaraan presiden tentang APBN 2027 yang secara teori cukup bagus dan ini yang membuat rupiah kembali lagi mengalami penguatan,” kata Ibrahim. Namun, arah rupiah tetap dipengaruhi gabungan sentimen global, pergerakan harga minyak, dan langkah stabilisasi di pasar.
Data Konsumen AS Mengubah Sentimen
Tekanan terhadap dolar muncul setelah konsumsi rumah tangga AS turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Penjualan ritel AS juga terkoreksi secara bulanan dengan penurunan yang disebut terbilang tajam dalam setahun.
Rangkaian indikator tersebut memperkuat pandangan pasar bahwa ekonomi AS tengah mengalami perlambatan. Kondisi itu kemudian mengurangi kekhawatiran bahwa bank sentral AS akan segera kembali menaikkan suku bunga.
| Indikator | Perkembangan | Respons Pasar |
|---|---|---|
| Rupiah | Menguat 21 poin atau 0,12 persen | Berada di Rp17.806 per dolar AS |
| Konsumsi rumah tangga AS | Turun pertama kali dalam tiga bulan | Memperkuat sinyal perlambatan |
| Penjualan ritel AS | Terkoreksi tajam secara bulanan | Menekan ekspektasi kenaikan suku bunga |
Data pergerakan rupiah tersebut dilansir Investor Daily. Ibrahim menyebut perubahan sentimen terhadap dolar menjadi salah satu pendorong utama penguatan rupiah pada sesi perdagangan itu.
“Yang menyebabkan dolar melemah kemudian rupiah menguat adalah salah satunya meredanya kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga setelah data konsumen Amerika Serikat turun,” ujar Ibrahim. Pernyataan itu mencerminkan sensitivitas nilai tukar domestik terhadap perkembangan ekonomi AS.
Pasar Menunggu Keputusan The Fed
Pasar memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan minggu ini. Perhatian kemudian mengarah pada peluang perubahan kebijakan pada periode berikutnya, termasuk September.
“Data ini yang mendukung dalam pertemuan minggu ini Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga. Bisa saja ke depan di bulan September akan menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Ekspektasi tersebut belum menjadi kepastian karena keputusan kebijakan moneter tetap bergantung pada penilaian The Fed terhadap kondisi ekonomi. Karena itu, setiap perkembangan data dari AS masih berpotensi memengaruhi pergerakan dolar dan rupiah.
Harga Minyak Masih Menjadi Risiko
Di tengah pelemahan dolar, pasar masih mewaspadai risiko lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi geopolitik. Harga minyak berpotensi melampaui US$80 per barel apabila tekanan geopolitik meningkat.
Kenaikan harga minyak menjadi faktor yang perlu diperhitungkan karena dapat mengubah sentimen pasar terhadap rupiah. Meski demikian, fokus pelaku pasar pada saat ini lebih banyak tertuju pada pelemahan indikator makroekonomi Amerika Serikat.
Bank Indonesia disebut terus melakukan intervensi di pasar internasional dan domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah itu menjadi salah satu penopang ketika pasar keuangan menghadapi perubahan sentimen global.
“Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar, baik di pasar internasional maupun pasar domestik. Tujuannya adalah untuk kembali mengawasi stabilitas mata uang rupiah di pasar internasional,” ujar Ibrahim.






