Ekonomi Jepang tumbuh 1,1 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 2 persen. Perlambatan ini terjadi ketika konflik Iran mendorong kenaikan biaya energi dan menahan pemulihan permintaan di dalam negeri.
Capaian tersebut juga lebih rendah dibanding pertumbuhan 2,1 persen pada kuartal I 2026. Data itu menunjukkan sektor ekspor belum sepenuhnya dapat mengimbangi tekanan yang dihadapi rumah tangga dan pelaku usaha.
Pasar keuangan Jepang merespons rilis data tersebut secara positif, meski hasil pertumbuhan meleset dari perkiraan. Indeks Nikkei 225 naik 0,43 persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada pada 2,88 persen.
Yen juga sedikit menguat terhadap dollar AS dan diperdagangkan di sekitar 159,1 yen per dollar AS. Pergerakan ini mencerminkan penilaian investor bahwa ekonomi masih berkembang, walaupun momentumnya melemah.
| Indikator | Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan PDB tahunan | 2,1 persen | 1,1 persen |
| Pertumbuhan dibanding periode sama tahun sebelumnya | 0,5 persen | 0,7 persen |
| Ekspektasi pasar untuk pertumbuhan tahunan | – | 2 persen |
Permintaan domestik masih tertahan
Secara perbandingan tahunan terhadap periode yang sama pada tahun sebelumnya, ekonomi Jepang tumbuh 0,7 persen pada kuartal II 2026. Angka itu meningkat dari 0,5 persen pada kuartal sebelumnya, tetapi belum menghapus kekhawatiran terhadap lemahnya aktivitas domestik.
Kenaikan harga minyak mentah memberi tekanan langsung bagi perusahaan dan rumah tangga Jepang. Beban energi yang lebih tinggi berpotensi mengurangi ruang konsumsi masyarakat sekaligus menambah biaya operasional dunia usaha.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena konsumsi domestik belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Pemerintah diperkirakan dapat memberikan sebagian penyangga melalui kebijakan untuk menekan tingginya harga minyak bagi rumah tangga.
Efektivitas kebijakan itu akan menjadi penting apabila harga energi bertahan tinggi. Tekanan biaya muncul pada saat permintaan dalam negeri masih belum cukup kuat untuk menopang ekspansi ekonomi secara lebih luas.
Ekspor menopang, tetapi ada pengaruh yen
Ekspor menjadi penopang utama pertumbuhan pada periode April hingga Juni 2026. Menurut laporan yang dikutip Kompas.com dari CNBC, pengiriman barang dari Jepang melampaui ekspektasi selama tiga bulan pada kuartal tersebut.
Namun, peningkatan nilai ekspor tidak sepenuhnya mencerminkan kenaikan volume pengiriman barang. Pelemahan yen turut membantu nilai ekspor, sehingga kekuatan sektor eksternal perlu dibaca secara lebih hati-hati.
Ketergantungan pada ekspor membuat arah Ekonomi Jepang berkaitan erat dengan ketahanan permintaan global. Dukungan dari luar negeri dapat terbatas apabila tekanan energi terus membebani aktivitas konsumsi dan bisnis di dalam negeri.
BOJ melihat risiko dari minyak mentah
Bank of Japan sebelumnya telah menyoroti lonjakan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah sebagai risiko bagi perekonomian. Harga minyak yang tinggi dapat memperbesar biaya produksi perusahaan dan mengurangi daya belanja rumah tangga.
Bank sentral Jepang itu menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB secara marginal menjadi 0,6 persen untuk tahun fiskal 2026 yang berakhir pada Maret 2027. Proyeksi tersebut naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 0,5 persen.
Dalam prospek aktivitas ekonominya, BOJ menyatakan, “Ekonomi Jepang diperkirakan akan terus tumbuh secara moderat, meskipun dengan laju yang melambat.” Bank sentral memasukkan harga minyak mentah tinggi sebagai salah satu faktor yang dapat menekan pertumbuhan.
Permintaan AI menjadi penyangga tambahan
Di tengah tekanan Harga Energi, permintaan global terkait AI memberi dukungan bagi sejumlah kegiatan ekonomi Jepang. Jepang memiliki banyak perusahaan yang terlibat dalam rantai pasok industri semikonduktor, sehingga peningkatan kebutuhan teknologi AI dapat menopang aktivitas tersebut.
Dukungan sektor semikonduktor memberi kontras dengan konsumsi domestik yang masih lemah. Arah pemulihan berikutnya akan ditentukan oleh perkembangan harga energi, daya tahan belanja masyarakat, dan keberlanjutan permintaan global terkait AI.






