BRIN mengembangkan grafit artifisial dari limbah batu bara untuk material baterai kendaraan listrik. Material tersebut disebut telah mencapai tingkat kesesuaian struktur sebesar 96,8 persen.
Capaian itu menempatkan limbah batu bara sebagai bahan yang berpotensi masuk ke rantai pasok baterai kendaraan listrik. Pengembangannya juga memperluas fokus ekosistem kendaraan listrik, dari kendaraan jadi hingga material di sektor hulu.
Material baterai dari limbah batu bara
Pengembangan grafit artifisial menjadi bagian dari riset material masa depan yang dijalankan BRIN. Lembaga tersebut juga tengah mengembangkan Baterai Li-ion Generasi 5V untuk kebutuhan kendaraan listrik.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan pengembangan material dilakukan bersamaan dengan riset baterai. “Di sektor hulu material masa depan, BRIN tengah mengembangkan Baterai Li-ion Generasi 5V serta memproduksi grafit artifisial dari limbah batu bara,” kata Arif Satria.
Grafit artifisial yang dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan material baterai kendaraan listrik atau EV. Langkah ini membuat limbah batu bara tidak hanya dipandang sebagai sisa proses industri, melainkan sebagai bahan bernilai tambah.
Riset tersebut berkaitan dengan pengembangan industri kendaraan listrik nasional yang juga membutuhkan kesiapan bahan baku. Rantai pasok baterai menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam pengembangan ekosistem ini.
Dorongan insentif untuk motor listrik lokal
Pengembangan material baterai berlangsung di tengah rencana pemerintah memberikan insentif bagi produsen motor listrik dalam negeri. Presiden Prabowo Subianto menyebut insentif besar akan diberikan kepada perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi satu juta motor listrik di dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan dalam Pidato Presiden RI mengenai penyampaian RUU APBN 2027 dan Nota Keuangan. Prabowo mengatakan kebijakan tersebut ditujukan untuk memperbesar industri motor listrik nasional.
Menurut Prabowo, pengembangan industri itu tidak hanya menyasar kendaraan, tetapi juga rantai pasok baterai, komponen, perangkat lunak, dan layanan purna jual. Insentif tersebut dinilai dapat membantu menekan biaya operasional kendaraan serta mengurangi konsumsi BBM impor.
Prabowo sebelumnya menyatakan biaya operasional motor listrik lebih rendah dibandingkan motor bensin, dengan potensi penghematan hingga 70 persen. Ia juga memperkirakan pengeluaran pengguna motor listrik dapat lebih dari 50 persen lebih rendah, bahkan berpotensi sekitar 30 persen dari biaya pengguna motor BBM saat ini.
Purwarupa kendaraan dan sistem konversi
Di sisi kendaraan, BRIN telah membuat beberapa purwarupa untuk kebutuhan penumpang, niaga, dan pengguna penyandang disabilitas. Pengembangan ini menunjukkan riset lembaga tersebut berjalan dari material baterai hingga penerapan pada kendaraan.
| Purwarupa | Jenis | Keterangan |
|---|---|---|
| MEVI DELL-E I-Seater | Kendaraan listrik | Versi I-Seater |
| MEVI DELL-E O-Seater | Kendaraan listrik | Versi O-Seater |
| E-TRIGO | Kendaraan listrik roda tiga | Untuk niaga dan ramah bagi penyandang disabilitas |
MEVI DELL-E dikembangkan dalam dua versi, yaitu I-Seater dan O-Seater. Sementara E-TRIGO dirancang sebagai kendaraan listrik roda tiga dengan orientasi penggunaan niaga.
BRIN juga mematangkan sistem konversi hybrid yang memadukan mesin bensin, motor listrik, dan controller. Menurut Arif, sistem tersebut berpotensi menghemat konsumsi bahan bakar minyak hingga 20-40 persen.
Selain sistem hybrid, BRIN mengembangkan konversi motor listrik dengan memanfaatkan rangka motor yang telah ada. Pendekatan itu disebut menawarkan biaya yang jauh lebih terjangkau dibandingkan membangun kendaraan dari awal.
Pengembangan grafit artifisial, baterai, purwarupa kendaraan, dan sistem konversi memperlihatkan cakupan riset BRIN di sektor kendaraan listrik. Material dari limbah batu bara menjadi salah satu bagian penting dalam upaya menyiapkan kebutuhan baterai di dalam negeri.






