Saat Rudal Bisa Tiba dalam 3 Menit, Warga Kyiv Mencari Petunjuk di Telegram

Warga Kyiv dapat memiliki waktu sekitar tiga menit untuk menentukan langkah perlindungan setelah sirene serangan udara berbunyi. Dalam rentang yang sangat singkat itu, sejumlah kanal Telegram menjadi lapisan informasi tambahan untuk membaca kemungkinan arah rudal dan drone Rusia.

Informasi yang muncul di kanal-kanal pemantauan sipil tidak memberi kepastian tentang lokasi dampak serangan. Namun, bagi warga yang harus memilih antara turun ke stasiun metro atau bertahan di apartemen, pembaruan cepat dapat membantu menilai risiko yang sedang mendekat.

Waktu Keputusan yang Sangat Terbatas

Rusia semakin sering menggunakan rudal balistik dalam serangan malam hari ke Ukraina. Jenis rudal ini dapat melaju ribuan kilometer per jam dan disebut mampu mencapai Kyiv sekitar tiga menit setelah peringatan dimulai.

Jenis AncamanInformasi yang DipantauArti bagi Warga
Rudal balistikDapat mencapai Kyiv sekitar tiga menit setelah sirene berbunyiWaktu mengambil keputusan perlindungan sangat terbatas
Drone RusiaTerlihat sebagai ikon merah bergerak di peta pemantauanMemberi gambaran area ancaman secara lebih rinci

Di tengah kondisi tersebut, warga kerap membandingkan pembaruan dari beberapa kanal sebelum menentukan tindakan. Risiko dinilai lebih besar bagi mereka yang tinggal di gedung bertingkat pada distrik yang diperkirakan berada di jalur ancaman.

Kateryna Reshetnyk, warga Kyiv berusia 34 tahun, pernah membawa ibu dan neneknya menuju stasiun kereta bawah tanah ketika sinyal serangan dinilai beragam. Ia membawa kursi lipat dan menyiapkan tempat tidur sementara di dekat pintu putar stasiun.

“Tetapi tidak ada yang tahu pasti apa yang akan atau tidak akan terjadi. Anda hanya mengandalkan intuisi dan naluri untuk bertahan hidup,” ujar Reshetnyk.

Stasiun metro kemudian dipenuhi ratusan warga yang membawa alas tidur, tenda, bantal, serta anjing peliharaan. Mereka tetap mengikuti perkembangan serangan karena keluarga, teman, dan rekan kerja tersebar di berbagai bagian Kyiv dan wilayah sekitarnya.

Kanal Sipil di Tengah Ancaman Udara

Salah satu kanal yang banyak diikuti bernama Aeris Rimor, dengan sekitar 150 ribu pengikut. Kanal itu dikelola administrator berusia 19 tahun yang menggunakan nama samaran Esko.

Menurut laporan AFP yang dikutip CNNIndonesia.com, Esko memantau pergerakan ancaman dari rumahnya, termasuk pada malam hari. Saat situasi tenang, ia mengisi waktu dengan menonton serial Criminal Minds atau berlatih menerbangkan drone melalui simulator elektronik.

Pada suatu malam, Esko melihat titik merah bergerak pada peta setelah sirene serangan udara berbunyi. Ia menyimpulkan ada rudal menuju Kyiv, lalu mengirim peringatan “TARGET KYIV!” kepada pengikut kanalnya.

Unggahan itu juga memuat perkiraan waktu dampak sekitar satu menit dan nama distrik yang berpotensi menjadi sasaran. Beberapa detik kemudian, ledakan terdengar di sejumlah bagian ibu kota Ukraina tersebut.

Pemantauan semacam ini menuntut perhatian terus-menerus karena titik merah yang menandai drone dapat berubah dengan cepat. Objek itu dapat menghilang dari peta setelah ditembak jatuh angkatan udara Ukraina, tetapi dapat pula muncul kembali.

Batas Informasi yang Harus Dijaga

Kanal pemantauan sipil beroperasi dalam wilayah abu-abu dari sisi hukum dan keamanan pertahanan. Sejumlah pengelolanya disebut memperoleh informasi langsung dari kontak di lingkungan angkatan udara Ukraina, tanpa menjelaskan cara aksesnya kepada publik.

Angkatan Udara Ukraina tidak secara tegas melarang kanal-kalal tersebut, tetapi meminta pengelola berhati-hati dalam membagikan informasi. Juru bicara Yuri Ignat menilai pembaruan itu memang memudahkan sebagian warga, selama tidak memuat rincian berlebihan yang dapat dimanfaatkan Rusia.

“Kami tidak bisa melarang mereka. Mereka ada, mereka memberikan informasi kepada masyarakat, dan bagi sebagian orang hal itu memang memudahkan,” kata Ignat kepada AFP.

Bagi warga Kyiv, kanal Telegram tidak menggantikan sirene dan peringatan resmi dari otoritas. Kanal tersebut menjadi pelengkap untuk mengikuti kemungkinan jenis serangan, terutama ketika pihak berwenang sudah memberi sinyal ancaman beberapa jam sebelumnya.

Tanggung jawab itu juga membebani Esko karena unggahannya dapat memengaruhi keputusan banyak orang pada malam hari. Ia mengaku sebagian besar waktunya kini dipakai untuk memantau ratusan drone, sementara waktu tidurnya hanya tersisa beberapa jam.

Periode yang tampak tenang pun tidak selalu berarti ancaman berkurang bagi warga Kyiv. Ketika muncul dugaan Rusia sedang menimbun persenjataan untuk serangan berikutnya, pemantauan informasi menjadi bagian dari upaya bertahan di tengah ketidakpastian.

Baca Juga