Nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran mendekati akhir masa berlaku 60 hari ketika konflik kedua negara kembali pecah pada Juli. Perang yang berlangsung saat kesepakatan masih berjalan membuat peluang pembentukan peta jalan penghentian pertempuran semakin tidak pasti.
Batas waktu MoU itu dijadwalkan jatuh pada 17 Agustus, tetapi belum ada kepastian mengenai dialog diplomatik langsung sebelum tenggat tersebut. Situasi ini menempatkan Pakistan, yang menjadi mediator perundingan, dalam posisi sulit untuk menjaga jalur komunikasi antara Washington dan Teheran.
Ancaman Serangan Mempersempit Diplomasi
Di tengah masa berlaku MoU, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan kembali menyerang Iran. Trump juga menyatakan ingin melenyapkan program nuklir Teheran yang dinilainya berbahaya bagi Timur Tengah dan dunia.
Amerika Serikat kemudian menggempur Iran selama nyaris dua pekan pada Juli, yang langsung dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Bentrokan itu menandai pecahnya kembali perang di saat kedua negara seharusnya menyusun langkah menuju penghentian pertempuran.
Trump turut mengisyaratkan serangan dapat berlanjut hingga Iran menghentikan program nuklirnya. Kondisi tersebut memperkecil ruang kompromi yang sebelumnya mulai terbuka melalui rangkaian perundingan internasional.
Langkah Awal yang Sempat Dibangun
Sebelum konflik kembali meluas, AS dan Iran sempat melanjutkan pembicaraan di Swiss pada akhir Juni. Negosiasi itu menghasilkan rencana pencairan aset Teheran yang dibekukan oleh Washington.
CNN Indonesia melaporkan nilai aset yang direncanakan untuk dicairkan mencapai hingga S$12 miliar. Pencairan tersebut disebut akan dilakukan dalam dua tahap, masing-masing senilai US$6 miliar.
Kedua pihak juga sepakat membentuk kelompok kerja untuk menangani sejumlah persoalan utama dalam hubungan mereka. Isu yang masuk pembahasan meliputi pencabutan sanksi, program nuklir, rekonstruksi dan pembangunan ekonomi, serta pemantauan dan implementasi.
| Peristiwa | Waktu | Perkembangan |
|---|---|---|
| Perundingan di Islamabad | 17 Juni | MoU AS-Iran dicapai dengan mediasi Pakistan |
| Negosiasi lanjutan di Swiss | Akhir Juni | Membahas langkah awal, termasuk pencairan aset |
| Berakhirnya masa MoU | 17 Agustus | Batas penyusunan peta jalan penghentian pertempuran |
Pakistan Menjaga Jalur yang Rapuh
MoU dicapai dalam perundingan di Islamabad pada 17 Juni dengan Pakistan sebagai mediator. Kesepakatan tersebut memberi waktu 60 hari bagi AS dan Iran untuk menyusun peta jalan menuju penghentian pertempuran.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri menyatakan proses memperbaiki hubungan kedua negara sejak awal memang tidak akan berlangsung singkat. Menurutnya, kesulitan utama muncul karena Washington dan Teheran sudah lama tidak berkomunikasi secara langsung.
Zahid mengatakan Pakistan telah mengerahkan upaya maksimal ketika hubungan serta jalur komunikasi kedua pihak memburuk. Kesediaan AS dan Iran untuk kembali mempertemukan para negosiator, menurutnya, merupakan kemajuan penting.
“Dan karena kedua negara sudah begitu lama tidak saling berkomunikasi, menurut saya, kami telah mencapai banyak kemajuan dalam mempertemukan para negosiator dari kedua belah pihak,” kata Zahid seusai peringatan kemerdekaan Pakistan ke-79 di Jakarta, Jumat malam. Pernyataan itu menunjukkan bahwa mediasi Pakistan masih bertumpu pada upaya menjaga komunikasi di tengah situasi yang terus berubah.
Pakistan tetap menyatakan harapan bagi perdamaian berkelanjutan di kawasan meski tenggat MoU semakin dekat. “Kami tetap berharap dapat mewujudkan perdamaian abadi di kawasan ini,” ujar Zahid ketika konflik AS dan Iran masih membara.






