Misi diplomatik Indonesia ke Mesir pada 1947 menghasilkan Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir, sebuah langkah penting bagi pengakuan kemerdekaan Republik. Namun, perjalanan yang dipimpin Haji Agus Salim itu juga menyimpan duka mendalam seorang ayah yang kehilangan putranya di medan perjuangan.
Di sebuah malam di Hotel Continental, Mesir, Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia itu tiba-tiba menangis setelah menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Lagu tersebut membawanya pada ingatan tentang Achmad Sjewket Salim, putra kelimanya yang gugur melawan penjajah.
Pengakuan Mesir bagi Indonesia
Mesir memiliki posisi khusus dalam sejarah diplomasi Indonesia karena menjadi negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1946. Setahun kemudian, Agus Salim memimpin rombongan diplomatik ke negara itu selama tiga bulan untuk memperkuat hubungan kedua negara.
Hasil kunjungan tersebut adalah penandatanganan Perjanjian Persahabatan Indonesia-Mesir. Dari pihak Mesir, dokumen itu ditandatangani langsung oleh Perdana Menteri Nokrashi Pasha.
Perjanjian tersebut menjadi bentuk pengakuan de jure atas kemerdekaan Indonesia. Langkah Mesir kemudian menjadi dasar bagi negara-negara Arab lain untuk mengikuti pengakuan terhadap Republik Indonesia.
| Periode | Peristiwa |
|---|---|
| Sekitar akhir Januari 1946 | Achmad Sjewket Salim gugur dalam pertempuran melawan penjajah. |
| 1946 | Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. |
| 1947 | Agus Salim memimpin misi diplomatik Indonesia ke Mesir selama tiga bulan. |
Malam yang Berubah Hening
Peristiwa emosional itu terjadi ketika rombongan sedang berbincang dan bercanda sambil menikmati cahaya bulan. Dalam suasana tersebut, Agus Salim mendadak melantunkan lagu perjuangan dengan suara lantang.
Aktivis Kairo, Zain Hasan, menuturkan kisah itu dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim terbitan Sinar Harapan. Menurutnya, semua orang yang hadir seketika diam ketika mendengar nyanyian Agus Salim.
“Kami yang hadir semua terdiam seperti terpukau,” kata Zain Hasan. Tidak lama kemudian, Agus Salim menangis tersedu-sedu dan tidak seorang pun di ruangan itu berani memulai percakapan.
Setelah suasana hening cukup lama, Agus Salim menjelaskan alasan dukanya. “Lagu itulah yang dinyanyikan anak saya ketika pelor Belanda menembus dadanya,” ujarnya.
Baju Putra yang Gugur
Agus Salim lalu menunjuk pakaian yang sedang dikenakannya pada malam itu. Ia mengatakan bahwa pakaian tersebut adalah baju yang dipakai putranya ketika gugur.
“Baju inilah,” katanya, sebelum menegaskan, “Baju ini yang dipakainya ketika ia jatuh menjadi syahid.” Zain Hasan mencatat penekanan Agus Salim pada kata “syahid” seolah menjadi penguat di tengah luka kehilangan yang dibawanya.
Putra yang dimaksud adalah Achmad Sjewket Salim, anak kelima Agus Salim dari pernikahannya dengan Zaenatun Nahar. Ia gugur sekitar akhir Januari 1946, pada masa revolusi melawan penjajah.
Agus Salim dan Zaenatun Nahar memiliki 10 anak, walaupun dua di antaranya meninggal saat masih kecil. Kehilangan Achmad Sjewket Salim tetap membekas ketika Agus Salim menjalankan tugas negara di luar Indonesia.
Malam di Hotel Continental memperlihatkan sisi pribadi di balik keberhasilan diplomasi yang dicapai Indonesia di Mesir. Di tengah perjuangan memperoleh pengakuan bagi negara yang baru merdeka, Agus Salim juga memikul kesedihan sebagai ayah dari seorang pejuang yang gugur.






