PT Timah Tbk membukukan laba bersih Rp2,71 triliun pada semester I 2026, melonjak 805% dibandingkan Rp300 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut menjadi perhatian pasar karena kinerja enam bulan perseroan telah melampaui target laba setahun penuh yang diproyeksikan BRIDS.
Perhatian investor juga terlihat dari akumulasi pembelian bersih asing pada saham TINS yang mencapai sekitar Rp1,5 triliun dalam tiga bulan terakhir. Pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, investor asing kembali mencatat pembelian bersih sekitar Rp110 miliar.
Saham TINS ditutup menguat 4,57% ke Rp3.890 dengan nilai transaksi Rp520,68 miliar pada perdagangan tersebut. Sebanyak 134,2 juta saham berpindah tangan dalam 31.631 kali transaksi, sementara harga saham ini telah naik 13,08% dalam satu bulan.
Target Rp4.500 dan valuasi
Phintraco Sekuritas menilai ruang penguatan teknikal saham TINS masih terbuka menuju Rp4.200 dan Rp4.500. BRIDS juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.500, berdasarkan asumsi valuasi 10 kali rasio harga terhadap laba tahun buku 2026.
Berdasarkan capaian semester pertama, BRIDS memperkirakan rasio harga terhadap laba tahunan TINS berada pada 6,7 kali. Level tersebut dinilai menarik di tengah pertumbuhan laba yang sangat tinggi, meski investor tetap perlu memperhitungkan risiko kebijakan royalti.
Potensi kenaikan tarif royalti belum diterapkan, tetapi tetap menjadi faktor yang dapat menekan pergerakan saham TINS. Untuk mencapai proyeksi laba bersih penuh 2026 sebesar Rp3,36 triliun, perseroan disebut hanya membutuhkan tambahan pengiriman yang relatif kecil pada semester kedua.
Harga timah dan defisit pasar global
Kenaikan harga timah menjadi penopang utama perbaikan kinerja PT Timah. Rata-rata harga timah di London Metal Exchange selama semester I 2026 mencapai US$50.319 per ton, naik 56,68% secara tahunan.
BRIDS mengutip CRU Tin Monitor yang mencatat pasar timah global masih mengalami defisit 5.720 ton. Produksi global tercatat 173.536 ton, sedangkan konsumsi mencapai 179.256 ton, sehingga ketidakseimbangan pasokan dan permintaan masih menopang prospek harga.
Peningkatan harga berlangsung bersamaan dengan kenaikan tajam volume produksi dan penjualan perseroan. Berikut sejumlah indikator utama kinerja PT Timah sepanjang semester I 2026.
| Indikator | Semester I 2026 | Perubahan Tahunan |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp10,42 triliun | Naik 247% |
| Laba bersih | Rp2,71 triliun | Naik 805% |
| Produksi bijih timah | 12.232 ton Sn | Naik 75% |
| Penjualan logam timah | 10.984 ton | Naik 85% |
Ekspor menjadi penopang penjualan
Pendapatan PT Timah pada enam bulan pertama 2026 mencapai Rp10,42 triliun, meningkat dari Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu didukung produksi bijih timah sebesar 12.232 ton Sn dan penjualan logam timah sebanyak 10.984 ton.
Pasar ekspor menyumbang 97% dari total penjualan perseroan. China menjadi tujuan terbesar dengan porsi 48%, diikuti India 11% dan Korea Selatan 10%.
Dari sisi neraca, total aset PT Timah mencapai Rp16,45 triliun atau naik 21% sejak awal tahun. Ekuitas perseroan tercatat Rp10,55 triliun, tumbuh 25% dibandingkan posisi awal tahun.
Kinerja operasional, kenaikan harga timah, dan derasnya pembelian asing menjadi faktor utama yang mengangkat perhatian terhadap saham TINS. Namun, perkembangan tarif royalti dan realisasi pengiriman pada semester kedua tetap akan menjadi faktor penting dalam menilai kelanjutan kinerja perseroan.






