Guguran lava dari Gunung Merapi masih meluncur hingga 1.900 meter ke arah hulu Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Aktivitas tersebut tercatat dalam periode pengamatan 15–16 Agustus 2026, saat status gunung api di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu tetap Level III atau Siaga.
Ancaman utama berada di kawasan aliran sungai pada sektor selatan, barat daya, dan tenggara Merapi. Suplai magma dari dalam bumi masih berlangsung sehingga guguran lava maupun awan panas guguran berpotensi terjadi di daerah bahaya.
Jangkauan Bahaya Mengarah ke Sejumlah Sungai
Di sektor selatan hingga barat daya, potensi guguran lava dan awan panas dapat mengarah ke Sungai Boyong hingga 5 kilometer. Jalur bahaya pada Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi mencapai jarak hingga 7 kilometer.
Sektor tenggara juga perlu mendapat perhatian karena ancaman dapat menjangkau Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer. Selain aliran di lembah sungai, lontaran material eksplosif dari puncak berpotensi mencapai radius 3 kilometer.
| Sektor | Jalur Potensi Bahaya | Jarak Maksimum |
|---|---|---|
| Selatan–barat daya | Sungai Boyong | 5 kilometer |
| Selatan–barat daya | Sungai Bedog, Krasak, Bebeng | 7 kilometer |
| Tenggara | Sungai Woro | 3 kilometer |
| Tenggara | Sungai Gendol | 5 kilometer |
Volume Kubah Lava Masih Besar
Status Siaga tidak berubah meskipun intensitas kegempaan pada satu periode pengamatan disebut lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Volume Kubah Lava Barat Daya per 1 Agustus 2026 tercatat mencapai 4.039.600 meter kubik, sementara Kubah Tengah sebesar 2.369.400 meter kubik.
Data tersebut menunjukkan material lava masih berada di area puncak Merapi. Kondisi itu menjadi bagian dari dasar kewaspadaan terhadap potensi guguran lava serta awan panas di jalur-jalur yang telah ditetapkan sebagai daerah bahaya.
Gempa Guguran dan Hybrid Mendominasi
BPPTKG mencatat aktivitas kegempaan Merapi didominasi gempa guguran dan gempa hybrid. Pada 16 Agustus 2026, jumlah kedua jenis gempa itu meningkat pada pengamatan siang hingga sore hari.
| Periode Pengamatan | Gempa Guguran | Gempa Hybrid | Gempa Tektonik Jauh |
|---|---|---|---|
| 16 Agustus, 06.00–12.00 WIB | 21 kali | 12 kali | – |
| 16 Agustus, 12.00–18.00 WIB | 23 kali | 16 kali | 3 kali |
Pada 15 Agustus 2026, tercatat 82 kali gempa guguran dan 91 kali gempa hybrid. Aktivitas lain pada hari itu mencakup 25 kali gempa vulkanik dangkal serta sembilan kali gempa tektonik jauh.
Dalam periode 7–13 Agustus 2026, Merapi mengalami total 1.205 kali gempa dan empat kali awan panas guguran. Awan panas pada periode tersebut memiliki jarak luncur maksimum 2.000 meter ke arah hulu Kali Boyong serta Kali Sat/Putih.
Rincian kegempaan mingguan terdiri atas 620 gempa guguran, 518 gempa fase banyak, 49 gempa vulkanik dangkal, dan 14 gempa tektonik. Kepala BPPTKG Yogyakarta Agus Budi Santosa menyatakan, “Intensitas kegempaan pada periode pengamatan ini lebih rendah dibandingkan dengan intensitas kegempaan pada minggu sebelumnya.”
Patroli dan Imbauan bagi Warga serta Wisatawan
Polsubsektor Kaliurang Polresta Sleman melakukan patroli pemantauan di Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang pada 11 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB. Pemantauan dilakukan di tengah aktivitas Merapi yang masih berada dalam status Siaga.
Polresta Sleman mengimbau warga dan wisatawan di lereng Merapi untuk mewaspadai lahar dingin, awan panas, serta sebaran abu vulkanik. Kewaspadaan terutama diperlukan di sekitar alur sungai yang berpotensi menjadi lintasan material vulkanik dari puncak.






