Iran mendesak Komite Internasional Palang Merah atau ICRC segera menindaklanjuti informasi mengenai tiga pilotnya yang disebut masih berada di Qatar. Teheran meminta akses bagi tim pencari fakta dan ahli Angkatan Udara Iran untuk memeriksa keberadaan ketiganya secara langsung.
Desakan ini muncul di tengah bantahan Qatar atas tuduhan bahwa negara itu menahan penerbang Iran secara rahasia. Iran menyatakan ketiga pilot tersebut masih hidup setelah pesawat tempur mereka terkena serangan dalam operasi militer pada awal tahun ini.
Permintaan untuk ICRC
Komandan Komite Pencarian Personel Hilang dalam Tugas di Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Mohammad Bagherzadeh, menyampaikan permintaan itu dalam surat kepada Presiden ICRC Mirjana Spoljaric Egger. Ia menyebut Iran memiliki informasi yang diyakini menunjukkan tiga penerbang ditangkap pasukan Qatar dalam keadaan hidup.
Menurut Bagherzadeh, Iran telah menempuh sejumlah jalur diplomatik dan tindak lanjut selama berbulan-bulan. Namun, ia menyatakan Qatar belum mengizinkan para pilot bertemu atau diwawancarai oleh pihak Iran.
Surat itu juga menyebut ketiga penerbang belum dapat berkomunikasi dengan keluarga maupun pejabat Iran. Bagherzadeh menilai kondisi tersebut menghambat proses pemulangan mereka ke Iran.
Ia meminta ICRC terlibat dalam memastikan informasi mengenai status dan lokasi ketiga pilot dapat diverifikasi. Permintaan tersebut sekaligus menyoroti hak komunikasi dan akses kemanusiaan bagi pihak yang disebut Iran sebagai tawanan perang.
Tiga Nama yang Disebut Teheran
Iran menyebut empat pilot menjalankan misi tempur yang menargetkan sebuah pangkalan militer musuh di Qatar. Satu pilot dilaporkan tewas, sedangkan tiga lainnya disebut berhasil melontarkan diri setelah jet mereka terkena serangan.
| Nama Pilot | Keterangan dari Iran |
|---|---|
| Javad Salehi | Disebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat. |
| Abdolmajid Dashtian | Disebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat. |
| Omran Behraveshian | Disebut berada di Qatar setelah melontarkan diri dari pesawat. |
Bagherzadeh menyatakan tim ahli Angkatan Udara Iran telah menunggu selama beberapa bulan untuk dapat memasuki Qatar. Permohonan akses itu disampaikan setelah Kementerian Luar Negeri Qatar membantah adanya penahanan diam-diam terhadap para penerbang tersebut.
“Alih-alih menyangkal masalah ini dan menghambat upaya untuk mengungkap kebenaran, pemerintah Qatar seharusnya mengizinkan tim pencari fakta dan tim ahli Angkatan Udara Republik Islam Iran datang ke Qatar,” kata Bagherzadeh, seperti dilaporkan IRNA. Ia menilai penundaan yang terjadi membuat ketiga pilot belum dapat dipulangkan.
Latar Operasi Militer
Menurut surat Iran, operasi udara itu dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Teheran menyatakan serangan tersebut dilakukan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel dari pangkalan di sejumlah negara Arab di pesisir selatan Teluk Persia.
Al Jazeera menyebut pangkalan yang dimaksud Iran adalah Al Udeid. Bagherzadeh menyatakan operasi Angkatan Udara Iran dijalankan untuk mempertahankan keutuhan wilayah negaranya.
Dalam surat kepada ICRC, Bagherzadeh merujuk Pasal 70 dan Pasal 78 Konvensi Jenewa Ketiga. Ia menyatakan keluarga tawanan perang dan kantor pusat ICRC semestinya menerima pemberitahuan mengenai penahanan para pilot.
Surat itu juga menekankan bahwa tawanan perang berhak menyampaikan keluhan serta permintaan kepada perwakilan yang mengunjungi tempat penahanan, termasuk perwakilan Palang Merah. Iran kini memusatkan permintaannya pada keterlibatan ICRC dan izin pemeriksaan bagi tim ahlinya di Qatar.






