AI Bisa Memengaruhi 40 Persen Pekerjaan, Mengapa Bos Teknologi Tetap Optimistis

IMF memperingatkan AI berpotensi memengaruhi hampir 40 persen pekerjaan di dunia dan memperburuk ketimpangan ekonomi global. Di tengah peringatan itu, sejumlah pemimpin perusahaan teknologi justru menulis manifesto untuk menegaskan keyakinan mereka pada masa depan AI.

Optimisme tersebut tidak hanya berbicara mengenai kemajuan teknologi, tetapi juga perebutan pengaruh atas cara masyarakat memandang risikonya. Publik, regulator, investor, dan pengembang menjadi sasaran penting dari gagasan yang disampaikan para eksekutif ini.

Risiko AI tidak berhenti pada lapangan kerja

Perdebatan paling sensitif berkaitan dengan batas aman penyebaran kemampuan AI yang semakin kuat. Kekhawatiran meningkat setelah sejumlah model AI kuat dilaporkan mampu meretas situs web dalam beberapa pekan terakhir.

Model yang dilaporkan meretas situs tersebut bukanlah model sumber terbuka. Meski demikian, kasus itu memunculkan pertanyaan lebih besar tentang sejauh mana kemampuan AI boleh tersedia secara luas.

Blogger ekonomi Noah Smith menilai persoalan itu tidak layak dipandang sebagai bahan candaan. “Haruskah kita membuka sumber sesuatu yang memiliki kemampuan untuk membunuh umat manusia?” ujarnya.

Perhatian terhadap risiko AI juga menguat karena Meta berencana membagikan perangkat AI secara lebih terbuka. Langkah itu memungkinkan publik melihat, memakai, dan mengubah desain atau kode yang berada di balik teknologi tersebut.

Pendukung pendekatan sumber terbuka menilai akses lebih luas dapat mempercepat inovasi serta memperluas manfaat teknologi. Sebaliknya, para kritikus mengingatkan bahwa kemampuan AI yang kuat berpotensi disalahgunakan jika semakin mudah dijangkau.

Persaingan dalam pasar AI sumber terbuka turut menjadi faktor penting bagi keputusan perusahaan teknologi. Qwen, DeepSeek, dan GLM dari China ikut meramaikan pasar model AI yang dapat diakses lebih luas.

Optimisme dari para pemimpin teknologi

Mark Zuckerberg menjadi salah satu tokoh terbaru yang menyampaikan visi tersebut lewat surat terbuka sekitar 6.500 kata berjudul The Future is for Everyone. CEO Meta itu berpendapat AI seharusnya membuka peluang baru, bukan menghapus peran manusia.

Zuckerberg mempertanyakan pesimisme yang berkembang di lingkungan pengembang AI. “Mengejutkan bahwa diskursus dari banyak pihak yang mengembangkan AI begitu dipenuhi dengan pandangan buruk,” tulisnya.

Pernyataan itu muncul saat Meta memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya, atau kurang lebih 8.000 pekerjaan, dalam reorganisasi yang berfokus pada AI. Kontras antara pengurangan tenaga kerja dan janji peluang baru membuat isu dampak AI terhadap pekerja semakin tajam.

Noah Smith menilai nilai taruhan dalam perkembangan AI sangat besar sehingga pernyataan para eksekutif layak diperhatikan. Para pemimpin teknologi itu dipandang berusaha mengarahkan momentum perkembangan AI sesuai visi masing-masing.

TokohManifestoPandangan tentang AI
Marc AndreessenThe Techno-Optimist ManifestoInovasi dan pertumbuhan dapat membantu mengatasi persoalan manusia.
Mark ZuckerbergThe Future is for EveryoneAI dapat memperluas peluang bagi manusia.
Sam AltmanThe Intelligence AgeAI diyakini mempercepat kemajuan manusia.
Dario AmodeiMachines of Loving GraceAI dapat mengubah bidang kesehatan hingga politik.

Marc Andreessen, pendiri Netscape, memopulerkan tren manifesto teknologi melalui The Techno-Optimist Manifesto pada 2023. Ia menempatkan pertumbuhan sebagai bentuk kemajuan yang membawa vitalitas, pengetahuan, dan kesejahteraan lebih tinggi.

Sam Altman dari OpenAI menerbitkan The Intelligence Age pada 2024 untuk menyampaikan keyakinannya terhadap kemampuan AI mempercepat kemajuan manusia. Ia menyatakan masyarakat perlu bertindak bijaksana, namun tetap menaruh keyakinan pada teknologi.

Dario Amodei dari Anthropic melalui Machines of Loving Grace memaparkan peluang perubahan AI di berbagai sektor. Ia juga menyatakan tidak ingin dipandang semata-mata sebagai pihak yang melihat ancaman teknologi.

Profesor bisnis Tulane University Rob Lalka menilai manifesto memberi ruang bagi para eksekutif untuk tampil sebagai pemikir masa depan. Namun, ia mengingatkan bahwa banyak alasan untuk optimistis masih belum terbukti, terutama ketika publik menghadapi ancaman pekerjaan dan persoalan lingkungan.

Dengan peringatan dari IMF, perdebatan AI kini tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan teknologi. Arah akses, keamanan, persaingan, serta dampaknya bagi pekerja menjadi bagian penting dari masa depan yang tengah diperebutkan para pemimpin industri.

Baca Juga