Indo Premier Sekuritas menaikkan target harga saham HRUM menjadi Rp1.250 per saham, dari sebelumnya Rp1.150 per saham. Revisi tersebut menempatkan pemulihan laba bersih pada semester kedua 2026 sebagai faktor utama yang akan diperhatikan pasar.
Kenaikan target Rp100 per saham itu didasarkan pada harapan membaiknya basis produksi perusahaan. Pertumbuhan volume batu bara dan kontribusi ekspansi bisnis nikel menjadi dua penopang utama proyeksi tersebut.
Prospek pemulihan ini penting karena kinerja operasional Harum Energy sebelumnya dihadapkan pada sejumlah hambatan. Keterlambatan produksi bijih nikel, kenaikan biaya sulfur, serta tertundanya persetujuan RKAB batu bara sempat membatasi potensi produksi perusahaan.
| Aspek | Kondisi Sebelumnya | Arah yang Dipantau |
|---|---|---|
| Target harga HRUM | Rp1.150 per saham | Rp1.250 per saham |
| Produksi nikel | Mengalami keterlambatan produksi bijih | Kontribusi ekspansi nikel |
| Bisnis batu bara | Persetujuan RKAB tertunda | Peningkatan volume batu bara |
Laporan Investor Daily menyebut pemulihan laba bersih HRUM diproyeksikan mulai terlihat pada paruh kedua 2026. Perbaikan itu tidak hanya dikaitkan dengan harga komoditas global, melainkan juga dengan normalisasi kegiatan operasional.
Normalisasi menjadi variabel penting karena produksi yang berjalan lebih baik dapat memperbesar basis volume perusahaan. Dalam proyeksi baru, arah pertumbuhan volume dipandang memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap potensi laba bersih.
Volume Batu Bara Menjadi Perhatian
Peningkatan volume batu bara menjadi salah satu katalis yang mendasari optimisme terhadap kinerja HRUM. Faktor ini memberi ruang bagi perbaikan laba apabila kegiatan operasional dapat berjalan sesuai potensi yang diharapkan.
Tertundanya persetujuan RKAB batu bara sebelumnya menjadi salah satu kendala bagi laju operasional. Karena itu, perkembangan produksi dan volume batu bara akan menjadi indikator penting untuk menilai realisasi proyeksi pada semester kedua 2026.
Fokus pada volume juga membedakan proyeksi terbaru dari penilaian yang hanya bertumpu pada sentimen harga komoditas. Harga komoditas tetap menjadi konteks bagi emiten tambang, tetapi pemulihan produksi dinilai memegang peranan yang lebih langsung dalam perbaikan kinerja.
Ekspansi Nikel Menambah Penopang
Selain batu bara, bisnis nikel diproyeksikan ikut mendukung pemulihan laba HRUM. Kontribusi lini ini diharapkan bergerak sejalan dengan kenaikan volume batu bara pada paruh kedua 2026.
Namun, ekspansi tersebut juga perlu dilihat bersama hambatan yang pernah muncul pada produksi bijih nikel dan biaya sulfur. Kedua faktor itu menjadi konteks penting dalam mengukur kemampuan perusahaan memperbaiki efektivitas operasionalnya.
Target harga baru Rp1.250 per saham mencerminkan ekspektasi yang lebih baik terhadap arah kinerja perusahaan. Realisasi pemulihan laba pada semester kedua 2026 pada akhirnya akan bergantung pada kekuatan pertumbuhan volume batu bara serta kontribusi bisnis nikel.






