Kekalahan 9 Wicket dari Bangladesh Mengguncang Australia Jelang Test Kedua

Australia mendapat pukulan besar setelah kalah sembilan wicket dari Bangladesh dalam pertandingan Test di Darwin. Hasil ini menjadi kontras tajam bagi tim peringkat teratas dunia yang menghadapi lawan peringkat kesembilan.

Tekanan kini mengarah pada respons Australia saat menghadapi Bangladesh lagi dalam Test kedua di Mackay, Queensland, pada 22 Agustus. Laga tersebut akan menjadi kesempatan penting untuk membenahi masalah yang terlihat sepanjang pertandingan pertama.

Ruang Perubahan Skuad Terbatas

Tuntutan pergantian pemain menguat setelah kekalahan tersebut, tetapi pilihan Australia tidak banyak. Tidak ada kompetisi domestik yang berlangsung, sementara skuad yang dibawa hanya berisi 13 pemain.

Josh Inglis menjadi satu-satunya cadangan yang tersedia untuk dipertimbangkan. Namun, pengalaman serta posisi idealnya dalam urutan batting masih menjadi pertanyaan bagi tim seleksi.

Pelatih kepala Australia Andrew McDonald mengakui adanya dorongan publik untuk melakukan perubahan. “Pilihan mudah adalah meminta perubahan,” kata McDonald, seraya menegaskan setiap keputusan harus diperhitungkan dengan matang.

PemainCatatan di DarwinKonteks
Marnus Labuschagne1 dan 31 runTanpa abad dalam 42 inning
Jake Weatherald23 dan 0 runRata-rata 20,36 setelah 12 inning
Nathan Lyon1/125Spinner senior Australia
Mehidy Hasan Miraz5/66Kontributor penting Bangladesh

Batting Menjadi Titik Tekan

Sorotan terbesar tertuju pada Marnus Labuschagne, yang hanya membuat 1 dan 31 run di Darwin. Catatan itu memperpanjang periode tanpa abadnya menjadi 42 inning di tengah upaya mempertahankan peran penting dalam tim Australia.

McDonald menilai Labuschagne membutuhkan sumbangan angka yang lebih besar untuk menjawab kebutuhan tim. “Kita menginginkan angka yang besar,” ujar McDonald, yang menilai 31 run pada inning kedua belum cukup.

Menurut McDonald, Labuschagne sempat menunjukkan tanda-tanda permainan yang baik sebelum berhenti di angka 31. “Dia kekurangan run dan kami semua merasakannya,” katanya.

Jake Weatherald juga menghadapi tekanan setelah mencatatkan 23 dan 0 run. Rata-rata pukulannya berada di angka 20,36 setelah 12 inning, sehingga opsi di lini batting kembali menjadi bahan evaluasi.

Lyon Dibela di Tengah Dominasi Bangladesh

Nathan Lyon mencatatkan 1/125, angka yang sangat berbeda dari Mehidy Hasan Miraz yang mengemas 5/66 untuk Bangladesh. Meski demikian, McDonald menolak menilai performa spinner senior Australia hanya berdasarkan satu pertandingan.

Australia juga kesulitan membangun fondasi skor yang kuat selama laga berlangsung. Kapten Pat Cummins menilai kekalahan itu tidak dapat semata-mata dibebankan pada inning pertama ketika timnya membuat 198 run.

Cummins menilai persoalan muncul di berbagai fase pertandingan dan menunjukkan kelemahan yang lebih menyeluruh. Bangladesh, di sisi lain, mampu menjaga tekanan melalui permainan yang disiplin saat mengendalikan laga.

McDonald memberi pengakuan terhadap cara Bangladesh menghadapi serangan bowling Australia. “Mereka memainkannya dengan sangat baik. Keseluruhan unit batting mereka sangat sabar dan disiplin,” ujar McDonald.

Hasil di Darwin disebut rediff.com sebagai salah satu kekalahan paling memalukan dalam sejarah 150 tahun kriket Australia. Australia kini perlu menemukan konsistensi permainan sebelum melanjutkan agenda tur tiga Test ke Afrika Selatan.

Baca Juga