Menjelang Keputusan BI dan The Fed, Rupiah Menguat ke Rp 17.798 per Dolar AS

Rupiah ditutup menguat ke level Rp 17.798 per dolar AS pada perdagangan Senin, 17 Agustus 2026. Mata uang Garuda naik 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Penguatan tersebut terjadi saat aktivitas pasar domestik terbatas karena libur nasional HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Pergerakan kurs kini menjadi perhatian karena pasar menanti dua agenda kebijakan moneter pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada hari itu. Di Amerika Serikat, investor juga menunggu rilis risalah rapat The Fed edisi Juli yang dapat memberi petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga.

Ekspektasi terhadap keputusan kedua bank sentral itu berpotensi menentukan arah rupiah setelah penguatan terbaru. Investor akan mencermati apakah sinyal dari dalam negeri dan Amerika Serikat mampu mempertahankan sentimen positif di pasar valuta asing.

Pergerakan Rupiah dan Indeks Dolar

Pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu ruang pendukung bagi penguatan rupiah. Indeks dolar turun 0,3 persen ke posisi 99,36 di tengah perhatian pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.

IndikatorPergerakanPosisi
Rupiah, 17 Agustus 2026Menguat 29 poin atau 0,16 persenRp 17.798 per dolar AS
Rupiah, 14 Agustus 2026Menguat 50 poinRp 17.827 per dolar AS
Indeks dolar ASMelemah 0,3 persen99,36

Sebelum penutupan Senin, rupiah juga mencatat penguatan pada Jumat, 14 Agustus 2026. Saat itu, nilai tukar menguat 50 poin hingga berada di Rp 17.827 per dolar AS.

Rangkaian pergerakan itu memperlihatkan bahwa arah dolar AS tetap menjadi faktor penting bagi mata uang negara berkembang. Ketika dolar melemah di pasar global, rupiah memperoleh peluang untuk melanjutkan tren penguatannya.

Data AS Mengubah Ekspektasi Pasar

Menurut laporan Investor Daily, tekanan terhadap dolar dipengaruhi sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang melambat. Pasar menyoroti penurunan indeks kepercayaan konsumen dan pelemahan penjualan ritel bulanan.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penurunan penjualan ritel tersebut sebagai yang terburuk dalam setahun terakhir. Data yang melemah meredakan kekhawatiran mengenai kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut oleh The Fed.

Pelaku pasar kemudian mulai mengantisipasi peluang penurunan suku bunga AS pada September. Ibrahim Assuaibi mengatakan, “Pasar sedikit lebih condong terhadap data ekonomi Amerika yang membuat indeks dolar terjadi gap down.”

Risalah rapat The Fed yang akan dirilis pada 19 Agustus 2026 menjadi dokumen penting untuk membaca pandangan para pejabat bank sentral AS. Isi dokumen itu dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap waktu dan arah perubahan suku bunga berikutnya.

Intervensi BI dan Risiko Harga Minyak

Di dalam negeri, Bank Indonesia tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar internasional dan domestik. Otoritas moneter juga menggunakan mekanisme non-deliverable forward di pasar internasional untuk mengawasi pergerakan kurs.

Ibrahim Assuaibi menyatakan, “BI terus melakukan intervensi di pasar internasional maupun pasar domestik. Tujuannya adalah untuk kembali mengawasi stabilitas mata uang rupiah di pasar internasional.”

Fundamental ekonomi nasional yang dinilai solid turut menjadi salah satu penopang rupiah di tengah ketidakpastian global. Namun, pasar masih menghadapi risiko dari sentimen geopolitik di Selat Hormuz dan Laut Merah yang memicu fluktuasi harga minyak global.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif tetapi masih berpeluang ditutup menguat. Ia memproyeksikan nilai tukar berada pada rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Baca Juga