Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), tetapi pemanfaatannya masih kurang dari 12 persen. Kesenjangan ini menunjukkan ruang besar untuk memperkuat pasokan listrik nasional dari sumber energi yang tersedia di dalam negeri.
Di tengah ketidakpastian energi global, panas bumi menawarkan pembangkit yang dapat beroperasi sepanjang hari tanpa bergantung pada perubahan cuaca. Karakter tersebut menjadikannya salah satu pilihan strategis untuk menopang ketahanan dan kedaulatan energi.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatat produksi listrik sebesar 2.745 gigawatt-hour (GWh) selama semester I-2026. Menurut Medcom.id, capaian itu meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
| Indikator Operasional PGE | Capaian |
|---|---|
| Potensi di wilayah kerja panas bumi | Sekitar 3 GW |
| Kapasitas terpasang yang dioperasikan mandiri | 727 MW |
| Produksi listrik semester I-2026 | 2.745 GWh |
| Faktor ketersediaan | 99,71 persen |
| Faktor kapasitas | 90,42 persen |
PGE memiliki potensi sekitar 3 GW di wilayah kerja panas buminya, dengan kapasitas terpasang yang dioperasikan mandiri mencapai 727 megawatt (MW). Faktor ketersediaan pembangkit tercatat 99,71 persen dan faktor kapasitas mencapai 90,42 persen.
Dua indikator tersebut menggambarkan kemampuan pembangkit panas bumi menyediakan listrik secara konsisten. Keandalan ini penting karena kebutuhan listrik nasional terus memerlukan pasokan yang stabil.
Energi Lokal untuk Kedaulatan Energi
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menilai kedaulatan energi tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan listrik. Indonesia, menurutnya, juga perlu mengandalkan sumber energi domestik yang kuat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat,” ujar Ahmad Yani.
Panas bumi menjadi sumber energi lokal yang tidak membutuhkan ketergantungan pada bahan bakar impor. PGE menempatkan pengembangannya sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan energi bersih yang andal bagi Indonesia.
Pemanfaatan energi ini juga tidak terbatas pada produksi listrik. PGE mengembangkan sejumlah penggunaan langsung panas bumi yang diarahkan untuk memberi nilai tambah kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Panas Bumi Masuk ke Pertanian dan Usaha Warga
Di Ulubelu, Lampung, PGE mengembangkan inovasi Melon Geothermal yang memadukan pemanfaatan panas bumi dan transfer pengetahuan bagi petani lokal. Program tersebut menghubungkan ketersediaan energi dengan penguatan aktivitas pertanian.
Di Lahendong, Sulawesi Utara, PGE bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi. Inovasi itu ditujukan untuk meningkatkan hasil panen dan ketahanan tanaman sekaligus menekan biaya pupuk petani.
Program Eco Eduwisata Kampung Kopi di Karaha menghasilkan Pupuk COMBINE yang memanfaatkan brine panas bumi dan bahan organik lokal. Sementara itu, petani di Kamojang bersama PGE sejak 2018 mengembangkan Geothermal Dry House untuk mempercepat pengeringan kopi.
Fasilitas Geothermal Dry House menggunakan uap buangan dari steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif. Pemanfaatan tersebut mendukung proses pengeringan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Penambahan Kapasitas di Sejumlah Daerah
Menjelang satu abad perjalanan pengembangan panas bumi nasional, PGE menyiapkan sejumlah proyek untuk menambah kapasitas energi bersih. Pengembangan dilakukan sambil menjaga keandalan aset yang telah beroperasi.
| Lokasi | Proyek Pengembangan PGE |
|---|---|
| Sumatra Selatan | PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 |
| Bengkulu | PLTP Hululais Unit 1 dan 2 |
| Sulawesi Utara | PLTP Lahendong Unit 7–8 dan Binary Unit |
| Lampung | Proyek Gunung Tiga |
Ahmad Yani menyatakan abad berikutnya menjadi kesempatan untuk menjadikan panas bumi sebagai salah satu kekuatan utama Indonesia. PGE menyebut akan terus menjaga operasi, mempercepat proyek pengembangan, dan memperluas manfaat panas bumi bagi pembangunan ekonomi nasional.






