Emas Dekati US$ 4.417 saat Dolar Melemah, Pasar Menanti Sinyal The Fed

Emas spot menutup perdagangan Senin (17/8/2026) di US$ 4.416,75 per ons troi, setelah naik 0,92 persen. Posisi ini membawa harga emas global mendekati US$ 4.417 dan menempatkan pasar pada level yang menjadi perhatian investor.

Kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember turut menguat 0,81 persen menjadi US$ 4.473,3 per ons troi. Kenaikan serentak pada pasar spot dan berjangka terjadi ketika dolar AS bergerak melemah.

Logam Mulia Menguat Bersama

Penguatan tidak hanya terlihat pada emas, karena perak, platinum, dan paladium juga mencatat kenaikan pada perdagangan yang sama. Perak membukukan kenaikan terbesar di antara empat logam mulia tersebut.

KomoditasPerubahanHarga per ons
Emas spotNaik 0,92%US$ 4.416,75
Emas berjangka DesemberNaik 0,81%US$ 4.473,3
PerakNaik 1,67%US$ 65,78
PlatinumNaik 1,38%US$ 1.773,25
PaladiumNaik 0,8%US$ 1.328,75

Harga perak naik 1,67 persen menjadi US$ 65,78 per ons, lebih tinggi dibandingkan laju penguatan komoditas lain dalam kelompok tersebut. Platinum bertambah 1,38 persen ke US$ 1.773,25, sedangkan paladium naik 0,8 persen menjadi US$ 1.328,75 per ons.

Dolar AS Menjadi Faktor Penting

Indeks dolar AS melemah hingga mendekati level psikologis 100 pada perdagangan itu. Kondisi tersebut membuat emas relatif lebih terjangkau bagi investor yang memakai mata uang selain dolar AS.

Pelemahan dolar memberi dukungan langsung terhadap permintaan logam mulia karena harga komoditas ini umumnya dinyatakan dalam dolar AS. Ketika nilai dolar turun, biaya pembelian emas bagi pemegang mata uang lain menjadi lebih rendah.

Pasar juga memperhatikan kondisi ekonomi Amerika Serikat, terutama sinyal perlambatan di pasar tenaga kerja. Menurut Investor Daily, perkembangan tersebut mengubah perhitungan pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter AS.

Perhatian Tertuju pada The Fed

Ekspektasi pasar terhadap lonjakan suku bunga The Fed pada September tercatat turun menjadi 33 persen berdasarkan CME FedWatch Tool. Perubahan proyeksi itu menjadi salah satu latar yang mendukung penguatan emas pada awal pekan.

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat The Fed periode Juli yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8/2026). Dokumen tersebut akan dicermati untuk memperoleh petunjuk mengenai sikap bank sentral AS terhadap inflasi dan suku bunga.

Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, menilai pasar mulai memasukkan risiko ekonomi ke dalam harga emas. Ia menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja AS serta ekspektasi bahwa The Fed akan menoleransi tingkat inflasi saat ini.

“Pasar emas tampaknya mulai memperhitungkan kondisi stagflasi, seiring melemahnya pasar tenaga kerja AS dan ekspektasi bahwa The Fed akan menoleransi tingkat inflasi saat ini,” kata Bart Melek.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut menopang minat terhadap emas sebagai aset aman. Faktor tersebut hadir bersamaan dengan pelemahan dolar dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pergerakan dolar AS dan isi risalah rapat The Fed akan menjadi perhatian utama pasar pada perdagangan berikutnya. Kedua faktor itu berpotensi membentuk sentimen terhadap emas yang telah bertahan di dekat US$ 4.417 per ons troi.

Baca Juga