PT Donggi-Senoro LNG menyatakan kesiapan teknis untuk menambah pasokan gas hingga 100 million standard cubic feet per day atau MMSCFD apabila kebutuhan dalam negeri meningkat. Namun, realisasi pengembangan tetap bergantung pada kelayakan harga gas dan ketersediaan pendanaan.
Kesiapan tersebut ditopang studi pengembangan yang telah tersedia serta ketersediaan lahan di area kilang. Plant Deputy General Manager DSLNG Sugianto Daesani menegaskan bahwa sisi operasional perusahaan memungkinkan tambahan kapasitas apabila keputusan investasi memenuhi pertimbangan ekonomi.
“Kita studinya sudah punya. Lahannya masih banyak,” kata Sugianto kepada Media Indonesia. Ia juga menyatakan bahwa tambahan hingga 100 MMSCFD dapat dilakukan jika harga gas dinilai layak.
Pengalaman Produksi Menjadi Modal
Kesiapan ekspansi Donggi-Senoro LNG didukung rekam jejak operasional kilang yang telah berjalan sejak 2015 di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Hingga kini, fasilitas tersebut telah menghasilkan sekitar 480-an kargo LNG atau mendekati 500 kargo.
Rata-rata produksi kilang mencapai sekitar 41 kargo per tahun. Setiap kargo memiliki kapasitas standar sekitar 125 ribu meter kubik, sehingga produksi dari Banggai menjadi salah satu bagian pasokan LNG Indonesia.
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Operasi kilang | Sejak 2015 | Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah |
| Produksi kumulatif | Sekitar 480-an kargo | Mendekati 500 kargo LNG |
| Rata-rata produksi | 41 kargo per tahun | Produksi tahunan kilang |
| Kapasitas per kargo | 125 ribu meter kubik | Kapasitas standar LNG |
| Kapasitas kilang | 2 juta ton per tahun | Kilang tunggal DSLNG |
Pada tahun berjalan, produksi DSLNG telah mencapai sekitar 28 kargo. Perusahaan menargetkan tambahan 12 kargo hingga Desember, dengan pasokan gas pengolahan berada di kisaran 335 MMSCFD.
Pasar Dalam Negeri Tetap Mendapat Porsi
Tambahan kapasitas yang dikaji berpotensi berkaitan dengan kebutuhan gas nasional yang terus diprioritaskan pemerintah. Kebijakan tersebut mendorong produsen LNG untuk mendahulukan pemenuhan kebutuhan di dalam negeri sebelum menyalurkan volume ke pasar lain.
Tahun ini, sekitar 15 kargo dialokasikan untuk Pasokan LNG Domestik melalui PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN. Di saat yang sama, sekitar 26 kargo ditujukan bagi pasar ekspor, terutama Jepang dan Korea.
| Tujuan Pasokan | Alokasi | Penyaluran |
|---|---|---|
| Dalam negeri | Sekitar 15 kargo | Melalui PGN |
| Ekspor | Sekitar 26 kargo | Jepang dan Korea |
Komposisi tersebut menunjukkan kilang DSLNG saat ini melayani pasar domestik dan ekspor secara bersamaan. Porsi dalam negeri tetap tersedia di tengah pengiriman LNG kepada pembeli luar Indonesia.
Sugianto menjelaskan pemenuhan kebutuhan domestik juga melibatkan PT Badak LNG dan BP Tangguh. Dalam skema itu, DSLNG melihat peluang untuk meningkatkan kontribusi apabila terdapat tambahan permintaan yang nyata.
Keputusan Investasi Menentukan Realisasi
Kapasitas 100 MMSCFD yang disebut perusahaan masih berada pada tahap kesiapan pengembangan, bukan penambahan produksi yang otomatis dijalankan. Harga gas menjadi faktor utama karena proyek baru harus memiliki dasar ekonomi yang memadai.
Pendanaan juga menjadi komponen penting sebelum pembangunan tambahan kapasitas dapat dilakukan. Karena itu, kesiapan lahan dan studi belum berarti pengembangan akan segera dimulai tanpa keputusan bisnis lebih lanjut.
Produksi yang mendekati 500 kargo memberikan dasar pengalaman bagi DSLNG untuk mempertahankan operasi kilang dan melayani dua pasar. Langkah berikutnya akan ditentukan oleh kebutuhan gas domestik serta kelayakan pengembangan tambahan pasokan.






