6 Jurusan dengan Pengangguran Sarjana Terbesar, Manajemen Mencapai 10,3 Persen

Manajemen menjadi bidang studi dengan proporsi terbesar dalam kelompok penganggur berpendidikan minimal S1, yakni 10,3 persen. Angka tersebut menempatkan Manajemen di atas lima bidang studi lain dalam pemetaan pasar kerja terbaru.

Temuan ini menunjukkan bahwa gelar sarjana tidak serta-merta mempercepat akses lulusan ke pekerjaan. Persaingan untuk posisi awal juga dapat berlangsung ketat, terutama pada bidang studi dengan cakupan luas dan jumlah mahasiswa besar.

Pemetaan Bidang Studi Penganggur Minimal S1

Pemetaan tersebut dimuat dalam Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 yang diterbitkan LPEM FEB UI. Kajian berjudul Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? itu menggunakan data Sakernas Agustus 2025.

Laporan ini menyoroti kesiapan pasar kerja dalam menyerap lulusan perguruan tinggi di tengah rencana perluasan akses pendidikan tinggi melalui pendirian universitas baru. Enam bidang studi berikut memiliki porsi besar di dalam kelompok penganggur dengan pendidikan minimal S1.

No.Bidang StudiProporsi Penganggur Minimal S1
1Manajemen10,3 persen
2Hukum9,0 persen
3Ekonomi8,7 persen
4Pendidikan7,1 persen
5Akuntansi5,1 persen
6Ilmu Komputer atau Informatika4,6 persen

1. Manajemen

Manajemen mencakup program yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, aset, dan industri. Pilihan pekerjaan lulusannya memang luas, dari administrasi hingga pengelolaan usaha, tetapi keluasan itu tidak selalu memudahkan proses masuk ke dunia kerja.

2. Hukum

Hukum menempati urutan kedua dengan proporsi 9,0 persen di antara penganggur minimal S1. Bidang ini memiliki jalur karier yang relatif jelas, namun tidak semua lulusan akhirnya bekerja sesuai disiplin studinya.

Dalam perebutan posisi awal yang bersifat umum, lulusan Hukum juga bersaing dengan lulusan dari bidang lain. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa jalur profesi yang terlihat jelas belum tentu langsung tersedia bagi seluruh lulusan.

3. Ekonomi

Ekonomi berada pada posisi ketiga dengan proporsi 8,7 persen. Sejumlah lulusannya dapat mengisi pekerjaan yang juga diperebutkan oleh alumni rumpun bisnis, Hukum, Komunikasi, dan ilmu sosial lainnya.

Persaingan lintas disiplin menjadi tantangan ketika lowongan yang tersedia bersifat umum. Karena itu, jalur kerja yang berkaitan langsung dengan studi Ekonomi tidak selalu menjadi tujuan akhir seluruh alumninya.

4. Pendidikan

Bidang Pendidikan menyumbang 7,1 persen dalam kelompok penganggur berpendidikan minimal S1. Kelompok ini meliputi pendidikan guru, bahasa, ekonomi, sains, hingga pendidikan vokasi.

Peluang masuk pasar kerja lulusan Pendidikan dipengaruhi pola rekrutmen guru dan ketersediaan formasi. Perbedaan kebutuhan sekolah antarwilayah serta persyaratan profesi juga ikut menentukan.

5. Akuntansi

Akuntansi mencatat proporsi 5,1 persen dan berada pada urutan kelima. Bidang ini berdekatan dengan Manajemen serta Administrasi Bisnis dalam rumpun bisnis.

Program studi rumpun bisnis tersedia di banyak perguruan tinggi dan cenderung menerima mahasiswa dalam jumlah besar. LPEM FEB UI menilai besarnya porsi lulusan bidang-bidang tersebut dalam kelompok penganggur bukan hal yang mengejutkan.

6. Ilmu Komputer atau Informatika

Ilmu Komputer atau Informatika berada di posisi keenam dengan proporsi 4,6 persen. Angka ini mengingatkan bahwa meningkatnya kebutuhan tenaga kerja digital tidak berarti seluruh lulusan otomatis terserap.

Bidang digital mencakup program yang beragam, sementara kebutuhan teknologi di industri dapat berubah cepat. Mutu pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman kerja, dan teknologi yang dipakai perusahaan dapat memengaruhi peluang lulusan.

Tingkat Pengangguran Lulusan S1 Kembali Meningkat

Tingkat pengangguran terbuka penduduk berpendidikan minimal S1 sempat turun dari 5,98 persen pada 2021 menjadi 4,80 persen pada 2022. Angka pada 2021 perlu dibaca hati-hati karena pasar kerja masih terdampak pandemi Covid-19.

Setelah itu, tingkat pengangguran terbuka lulusan minimal S1 naik menjadi 5,18 persen pada 2023, 5,25 persen pada 2024, dan 5,39 persen pada 2025. Pergerakan tersebut menegaskan pentingnya kesesuaian kapasitas pendidikan tinggi, keterampilan lulusan, dan kebutuhan pasar kerja.

Baca Juga