Brent Menembus US$90, Bursa AS Tertekan oleh Risiko Pasokan Minyak

Lonjakan harga energi kembali menekan Wall Street setelah minyak Brent menembus US$90 per barel pada perdagangan Senin (17/8/2026). Kenaikan ini terjadi ketika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global.

Tekanan tidak hanya terlihat di pasar saham, tetapi juga pada obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak Juni 2007, mencerminkan perhatian pasar terhadap risiko inflasi dan biaya energi.

Minyak Brent ditutup naik 2,7 persen ke US$90,87 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate atau WTI meningkat 2,6 persen menjadi US$84,50 per barel. Harga energi yang lebih tinggi menjadi beban baru bagi investor yang sedang menilai arah ekonomi dan kebijakan moneter AS.

Indeks Saham AS Bergerak Melemah

Tiga indeks utama bursa AS sama-sama berakhir di zona merah pada sesi perdagangan tersebut. Menurut Investor Daily, pelemahan berlangsung merata pada Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite.

InstrumenPerubahanPenutupan
S&P 500Turun 0,52%7.745,06
Nasdaq CompositeTurun 0,32%26.644,91
Dow Jones Industrial AverageTurun 0,51%53.459,78
Minyak WTINaik 2,6%US$84,50 per barel
Minyak BrentNaik 2,7%US$90,87 per barel

Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 272 poin dalam perdagangan Senin. Penurunan itu memperlihatkan bahwa kenaikan harga minyak mentah telah memperlemah minat investor terhadap aset berisiko.

Sentimen pasar memburuk setelah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir pada Senin. Perundingan kedua negara juga belum menghasilkan titik temu untuk memperpanjang nota kesepahaman yang sebelumnya berlaku.

Negosiasi AS-Iran Jadi Perhatian Pasar

Penolakan Teheran terhadap pembicaraan perpanjangan kesepakatan meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar energi. Situasi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko gangguan aliran minyak dunia apabila ketegangan terus meningkat.

Jason Stephens, Pendiri Evertern Wealth, menyatakan perhatian investor kini kembali tertuju pada negosiasi langsung Washington dan Teheran. “Pelaku pasar kembali mencermati perkembangan negosiasi AS dan Iran secara langsung, di mana masih terdapat potensi penurunan harga minyak jika kesepakatan berhasil dicapai,” kata Stephens.

Menurut Stephens, peluang kesepakatan tetap dapat mengubah arah pergerakan harga minyak. Namun, dinamika politik domestik AS juga menambah tekanan bagi pemerintah untuk menemukan jalan keluar dalam perundingan tersebut.

“Tekanan terhadap pemerintahan AS untuk mencapai kesepakatan semakin besar, terutama menjelang pelaksanaan pemilihan umum paruh waktu,” ujar Stephens. Karena itu, perkembangan ketegangan AS-Iran dipandang sebagai salah satu faktor utama yang akan memengaruhi sentimen investor dalam waktu dekat.

Micron Menjadi Pengecualian

Di tengah koreksi pasar yang meluas, saham Micron Technology justru menguat sekitar 4 persen. Kenaikan itu terjadi setelah Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan pemerintah tidak mendukung rencana Apple membeli chip memori dari China.

Pergerakan Micron menjadi pengecualian ketika mayoritas indeks saham utama bergerak turun. Investor juga menunggu risalah rapat The Fed yang dijadwalkan dirilis pada Rabu (19/8/2026).

Pasar selanjutnya akan memantau laporan keuangan peritel besar, termasuk Home Depot, Lowe’s, dan Walmart. Laporan tersebut akan menjadi perhatian ketika pelaku pasar masih menghitung dampak lonjakan minyak dan ketidakpastian diplomatik terhadap perdagangan berikutnya.

Baca Juga