Merah Putih berkibar di atas genangan rob yang menutup sebagian Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Pada Senin, 17 Agustus 2026, warga tetap berdiri di jembatan papan untuk mengikuti upacara kemerdekaan.
Upacara tersebut mengusung tema “Merdeka dari Krisis Iklim”, di tengah abrasi dan banjir rob yang telah dihadapi warga selama bertahun-tahun. Pengibaran bendera menjadi cara warga menjaga ruang perayaan sekaligus menyampaikan harapan bagi masa depan kampung mereka.
Perubahan kondisi Timbulsloko berlangsung dalam waktu yang panjang. Kepala Desa Timbulsloko Nadhiri menyebut wilayah itu masih subur dengan sawah, palawija, dan tambak ketika ia mulai menjabat pada 2009.
Menurut Nadhiri, perubahan besar mulai terasa pada 2016 hingga membuat kondisi kampung menjadi seperti sekarang. Genangan rob dan abrasi kemudian menjadi bagian dari keseharian warga di dukuh tersebut.
Keinginan menggelar upacara bendera di Dukuh Timbulsloko telah muncul dari warga dalam beberapa tahun terakhir. Nadhiri mengatakan antusiasme itu semakin terlihat sejak 2024, ketika warga ingin mengikuti upacara kemerdekaan di wilayah mereka sendiri.
“Alhamdulillah, hari ini tanggal 17 Agustus 2026 berjalan dengan lancar. Ini termasuk antusias warga,” ujar Nadhiri mengenai pelaksanaan upacara tersebut.
Rangkaian Perayaan Selama Tiga Hari
Upacara pada 17 Agustus menjadi puncak kegiatan warga yang berlangsung sejak 15 Agustus 2026. Panitia menyusun rangkaian acara yang memadukan hiburan, diskusi lingkungan, serta ruang ekspresi bagi masyarakat pesisir.
| Tanggal | Kegiatan |
|---|---|
| 15 Agustus 2026 | Nonton bareng film dan diskusi persoalan lingkungan |
| 16 Agustus 2026 | Pesta rakyat dengan penampilan kelompok ibu-ibu nelayan, band musik, dan teater |
| 17 Agustus 2026 | Upacara rakyat dan pengibaran Merah Putih di tengah rob |
Pada hari pertama, warga menonton sekitar tiga hingga empat film bertema lingkungan hidup. Sejumlah tayangan membahas persoalan pesisir dan penambangan, lalu dilanjutkan dengan diskusi bersama warga.
Pesta rakyat pada 16 Agustus menampilkan kelompok ibu-ibu nelayan, band musik, dan pertunjukan teatrikal. Kegiatan itu memberi ruang bagi warga untuk berkumpul sebelum mengikuti upacara bendera keesokan harinya.
Berawal dari Keinginan Merayakan Kemerdekaan
Panitia Upacara Rakyat Timbulsloko, Cornel, mengatakan kegiatan serupa telah digelar secara sederhana sejak 2020. Bentuk acaranya kemudian berkembang lebih beragam dari tahun ke tahun.
Menurut Cornel, gagasan perayaan itu berangkat dari keinginan warga untuk ikut merasakan suasana kemerdekaan seperti masyarakat di daerah lain. Kondisi kampung yang terdampak rob tidak menghapus keinginan tersebut.
“Puncaknya hari ini pada 17 Agustus, warga berkumpul mengikuti upacara dan pengibaran Merah Putih,” ucap Cornel usai prosesi pengibaran bendera. Perwakilan warga menjalankan tugas pengibaran di tengah air, sementara peserta lain mengikuti upacara dari jembatan papan.
Koran Pelita melaporkan, upacara di tengah genangan menjadi gambaran kehidupan warga yang terus berjalan di tengah tekanan lingkungan pesisir. Bagi masyarakat Timbulsloko, Merah Putih yang berkibar di atas rob juga menegaskan bahwa harapan mereka belum surut.






