Kabupaten Ngada mencatat dampak kerusakan rumah terbesar setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 1.796 unit rumah terdampak, sementara rincian kategori kerusakannya masih dalam proses pendataan.
Angka tersebut menempatkan Ngada sebagai wilayah dengan kerusakan permukiman paling besar dibandingkan kabupaten lain yang telah melaporkan perincian sementara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat masih memverifikasi apakah rumah-rumah itu masuk kategori rusak berat, sedang, atau ringan.
Status Darurat dan Korban Gempa
Pemerintah Provinsi NTT menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, yakni sejak 15 hingga 28 Agustus 2026. Hingga Senin (17/8), BNPB mencatat 68 orang meninggal dunia dan 213 orang lainnya mengalami luka-luka.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada hunian warga. Sejumlah tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran, fasilitas umum, serta akses jalan juga dilaporkan terdampak guncangan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan pendataan di Ngada belum selesai. “Kabupaten Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan tersebut,” tutur Berton.
Kerusakan Rumah Tersebar di Sejumlah Kabupaten
Data sementara menunjukkan dampak gempa tersebar dari Nagekeo hingga Sikka. Sejumlah daerah telah melaporkan jumlah rumah rusak berdasarkan tingkat kerusakan, sedangkan data terperinci untuk Kabupaten Ngada masih ditunggu.
| Kabupaten | Rusak Berat | Rusak Sedang | Rusak Ringan |
|---|---|---|---|
| Nagekeo | 116 unit | 6 unit | 42 unit |
| Ende | 108 unit | 85 unit | 268 unit |
| Manggarai | 761 unit | 76 unit | 147 unit |
| Manggarai Timur | 23 unit | 15 unit | 11 unit |
| Manggarai Barat | 481 unit | 202 unit | 231 unit |
| Sikka | 145 unit | 16 unit | 12 unit |
Manggarai menjadi daerah dengan angka rumah rusak berat tertinggi dalam data yang telah dirinci, yakni 761 unit. Manggarai Barat menyusul dengan 481 unit rumah rusak berat dan 202 unit rumah rusak sedang.
Ende melaporkan 461 rumah terdampak dalam tiga kategori kerusakan. Sementara itu, Nagekeo mencatat 164 rumah rusak, termasuk 116 unit yang masuk kategori rusak berat.
Gempa Susulan Belum Menunjukkan Pola Peluruhan
Kerusakan luas itu terjadi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Pusat gempa berada di Kabupaten Nagekeo, namun dampaknya menjalar ke sejumlah kabupaten di sekitarnya.
Pos Pendamping Nasional mencatat telah terjadi 1.576 kali gempa susulan setelah guncangan utama. Gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
BMKG melaporkan sebanyak 54 gempa susulan dirasakan oleh warga. Aktivitas kegempaan masih berfluktuasi dan pola peluruhannya belum terlihat secara jelas.
Kondisi kegempaan diperkirakan mulai lebih stabil dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Meski demikian, warga di kawasan terdampak masih menghadapi potensi gangguan dari rangkaian gempa susulan yang terus dipantau.
Tim SAR dan Layanan Kesehatan Disiagakan
Tim SAR gabungan tetap berada di lokasi terdampak meski tidak ada lagi warga yang dilaporkan hilang akibat gempa. Kekuatan yang disiagakan mencakup 63 personel Basarnas dan 1.799 personel potensi SAR.
Basarnas memusatkan penurunan personel secara optimal di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Penempatan tersebut ditujukan untuk mendukung pencarian, pertolongan, serta penanganan kondisi darurat di lapangan.
Layanan kesehatan darurat juga terus diupayakan sejak gempa terjadi. Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan bagi warga yang membutuhkan penanganan medis.






