Api Bromo Sudah Terkendali, Bara di Serasah Masih Mengancam Kawasan Sekitar

Api di kawasan Gunung Bromo telah terkendali, tetapi petugas masih menghadapi risiko bara yang tersimpan di bawah material vegetasi terbakar. Bara yang tidak terlihat dapat kembali menyala dan merambat ke bagian kawasan yang belum terdampak.

Risiko tersebut menjadi perhatian karena angin lokal berpotensi memindahkan material ringan dari area bekas kebakaran. Jika masih menyimpan panas, material itu dapat membawa api ke titik lain di kawasan Bromo.

Penyisiran Dilakukan untuk Menemukan Sisa Panas

Kementerian Kehutanan terus melakukan pendinginan dan penyisiran di area terdampak kebakaran hutan di Bromo. Langkah ini diarahkan untuk memastikan tidak ada sisa panas yang tertinggal setelah kobaran api di permukaan berhasil dikendalikan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, menyatakan kegiatan mopping up dipusatkan pada lokasi yang masih dinilai berpotensi menyimpan panas. Petugas memeriksa bukan hanya titik api yang terlihat, melainkan juga material bekas terbakar yang mungkin masih menyimpan bara.

“Pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas agar bara benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke bagian kawasan yang belum terdampak,” kata Dwi dalam keterangan tertulis. Operasi ini dilakukan ketika penanganan kebakaran di Bromo masih berlangsung.

Material Vegetasi Menjadi Titik Rawan

Menurut Kemenhut, jenis tutupan vegetasi di area terdampak menentukan cara petugas memeriksa sisa kebakaran. Semak, pakis, cemara gunung, hingga serasah tebal dapat menyimpan panas meski tidak lagi tampak kobaran api di permukaan.

Material di Area TerdampakRisiko yang Diwaspadai
Savana dan semak belukarApi dapat merambat di permukaan kawasan
Cemara gunung dan pakisMaterial terbakar harus diperiksa menyeluruh
Lapisan serasah tebalBara dapat bertahan meski api tidak terlihat

Lapisan serasah tebal mendapat perhatian khusus karena bara dapat bertahan di bawah permukaan vegetasi. Kondisi ini membuat kawasan yang tampak padam tetap memerlukan pembasahan dan pemeriksaan berulang.

Tim juga mengantisipasi pusaran angin lokal atau dust devil di sekitar kawasan. Pusaran tersebut dikhawatirkan mengangkat material ringan yang masih menyimpan bara dan memindahkannya ke lokasi lain.

Operasi Melibatkan Personel Lintas Instansi

Penanganan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru melibatkan personel Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara bersama Balai Besar TNBTS. Operasi ini juga didukung TNI, Polri, BPBD, relawan, serta masyarakat di sekitar kawasan.

Setelah penanganan berjalan hampir dua pekan, fokus operasi beralih dari pengendalian kobaran api menuju pengamanan menyeluruh di area bekas terbakar. Para petugas melakukan pemantauan sekaligus pembasahan untuk mengurangi kemungkinan api muncul kembali.

Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, mengapresiasi personel yang bekerja dalam medan kebakaran yang tidak mudah. “Personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan,” ujarnya.

Pencegahan Diperkuat Menjelang Kemarau

Dwi menilai penanganan Bromo menjadi pelajaran penting dalam menghadapi potensi karhutla, terutama menjelang musim kemarau. Kondisi api yang terkendali, menurutnya, belum berarti ancaman kebakaran telah sepenuhnya berakhir.

“Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali, tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak,” ujar Dwi.

Penguatan pencegahan mencakup kesiapan Manggala Agni, sistem deteksi dini, patroli, serta koordinasi lintas sektor. Keterlibatan masyarakat juga dinilai penting karena warga menjadi pihak yang paling dekat dengan kawasan hutan dan berpotensi pertama mengetahui gangguan di lapangan.

Kemenhut menempatkan pengendalian karhutla sebagai bagian dari perlindungan hutan sekaligus keselamatan masyarakat. Pengalaman penanganan di Bromo akan digunakan untuk mengevaluasi respons cepat, deteksi dini, personel, dan peralatan menghadapi potensi karhutla sepanjang 2026.

Baca Juga