Dolar AS Melemah ke Level 11 Minggu, Rupiah Ditutup Menguat di Rp17.798

Pelemahan dolar AS ke posisi terendah dalam 11 minggu memberi ruang penguatan bagi sejumlah mata uang dunia pada perdagangan Senin (17/8). Rupiah turut ditutup naik 29 poin atau 0,16 persen ke level Rp17.798 per dolar AS.

Penguatan tersebut berlangsung di tengah respons pasar terhadap rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan. Tekanan terhadap dolar AS tidak hanya terlihat pada rupiah, melainkan juga pada sejumlah mata uang Asia dan negara maju.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai data ekonomi AS menjadi faktor utama di balik pelemahan indeks dolar. Kondisi itu membuat rupiah mampu mengakhiri perdagangan dengan posisi yang lebih kuat terhadap dolar AS.

“Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS dengan indeks dolar AS melemah ke level terendah dalam 11 minggu menyusul serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/8).

Penguatan Terjadi di Berbagai Kawasan

Pergerakan mata uang pada hari itu menunjukkan tekanan dolar AS berlangsung secara cukup luas. Mayoritas mata uang yang dicatat menguat, meski terdapat pengecualian pada peso Filipina yang bergerak melemah.

KawasanMata UangPergerakan terhadap Dolar AS
AsiaYuan ChinaMenguat 0,09 persen
AsiaRinggit MalaysiaMenguat 0,73 persen
AsiaDolar SingapuraMenguat 0,21 persen
AsiaYen JepangMenguat 0,13 persen
AsiaWon Korea SelatanMenguat 0,36 persen
AsiaPeso FilipinaMelemah 0,05 persen
AsiaDolar Hong KongMenguat 0,03 persen
Negara majuEuro EropaMenguat 0,27 persen
Negara majuPoundsterling InggrisMenguat 0,15 persen
Negara majuDolar AustraliaMenguat 0,55 persen
Negara majuDolar KanadaMenguat 0,13 persen
Negara majuFranc SwissMenguat 0,54 persen

Di kawasan Asia, ringgit Malaysia mencatat kenaikan paling besar di antara mata uang yang disebutkan, yakni 0,73 persen. Won Korea Selatan mengikuti dengan penguatan 0,36 persen, sedangkan dolar Singapura naik 0,21 persen.

Yen Jepang menguat 0,13 persen dan yuan China naik 0,09 persen terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong juga tercatat terapresiasi 0,03 persen.

Peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang Asia dalam daftar tersebut yang bergerak berlawanan arah. Mata uang itu melemah 0,05 persen terhadap dolar AS pada perdagangan yang sama.

Mata Uang Negara Maju Turut Menguat

Tekanan terhadap dolar AS juga tercermin pada mata uang utama negara maju. Dolar Australia menjadi salah satu yang mencatat penguatan terbesar dengan kenaikan 0,55 persen.

Franc Swiss menguat 0,54 persen, hampir setara dengan kenaikan dolar Australia. Sementara itu, euro Eropa naik 0,27 persen terhadap dolar AS.

Poundsterling Inggris tercatat menguat 0,15 persen pada perdagangan tersebut. Dolar Kanada juga naik 0,13 persen.

Pergerakan serempak pada berbagai mata uang tersebut memperlihatkan bahwa penguatan rupiah terjadi dalam konteks pelemahan dolar AS yang lebih luas. Bagi pasar, data ekonomi AS yang berada di bawah ekspektasi menjadi pemicu utama perubahan arah indeks dolar pada hari itu.

Rupiah menutup perdagangan di Rp17.798 per dolar AS setelah naik 29 poin dari perdagangan sebelumnya. Kenaikan 0,16 persen itu berlangsung bersamaan dengan apresiasi mayoritas mata uang Asia dan sejumlah mata uang negara maju.

Baca Juga