Keterangan mengenai Susannah dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto memunculkan dua koreksi penting. Pemerintah membenarkan kekeliruan pengucapan upah Rp700 ribu per kilogram, sementara keluarga membantah bahwa warga Kabupaten Bogor itu bekerja sebagai pengupas bawang.
Kakak kandung Susannah, Yuliana, mengatakan pekerjaan adiknya tidak sesuai dengan gambaran yang disampaikan dalam pidato. Menurut dia, Susannah memborong jahit kain lap majun dan juga bertugas di dapur program Makan Bergizi Gratis.
Yuliana menyebut upah dari pekerjaan menjahit kain lap majun rata-rata mencapai Rp14 ribu per hari. Ia menegaskan keluarga serta tetangga merasa bingung karena kegiatan Susannah sebelumnya telah diliput sebelum ia diundang ke acara tersebut.
“Itu tidak benar. Tidak, sangat tidak benar,” kata Yuliana mengenai penyebutan profesi Susannah sebagai pengupas bawang. Ia menggambarkan adiknya sebagai sosok yang tetap bekerja secara mandiri untuk membantu kebutuhan keluarga.
Angka dalam naskah berbeda dengan yang terucap
Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan, Qodari, menjelaskan nominal yang tercantum dalam naskah pidato adalah Rp700 per kilogram. Angka Rp700 ribu per kilogram disebut muncul akibat kekeliruan pengucapan saat Presiden menyampaikan pidato berdurasi panjang.
Qodari menilai kesalahan satu atau dua kata dapat terjadi dalam penyampaian pidato yang panjang. “Kalau membaca dengan menganalisa dengan niat baik, saya kira pasti enggak mungkinlah Rp700.000,” ujarnya.
Menurut Qodari, nominal Rp700 per kilogram lebih masuk akal bila dibandingkan dengan harga komoditas di pasar. Badan Komunikasi Kepresidenan juga menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan pengucapan tersebut.
“Mohon maaf atasnya,” kata Qodari. Menteri Sekretaris Negara memberi respons terpisah mengenai data yang dipakai dalam pidato dengan menyatakan, “Nanti kita cek, ya.”
Susannah disebut sebagai penerima bantuan
Susannah diperkenalkan dalam pidato sebagai warga Kabupaten Bogor yang menerima Program Keluarga Harapan dan program sembako. Presiden mengaitkan bantuan itu dengan dukungan terhadap pendidikan anak-anaknya.
Di sisi lain, Yuliana menyampaikan bahwa Susannah dan suaminya sama-sama bekerja untuk menopang rumah tangga. Suami Susannah bekerja sebagai kuli bangunan, sementara Susannah menjalankan pekerjaan menjahit serta membantu di dapur program Makan Bergizi Gratis.
Yuliana mengatakan adiknya tidak banyak mengeluhkan keadaan dan tetap menjalani pekerjaan dengan tekun. Ia juga menyebut Susannah sopan, rajin beribadah, serta memberi perhatian pada pendidikan anak-anaknya.
| Penerima bantuan | Daerah | Program yang disebut |
|---|---|---|
| Susannah | Kabupaten Bogor | Program Keluarga Harapan dan program sembako |
| Margarelitha Rohi | Kupang, Nusa Tenggara Timur | Bantuan sosial ATENSI |
Konteks pidato kenegaraan
Pidato tersebut disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR/DPD RI pada Jumat, 14 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, Presiden memaparkan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan kepemimpinannya sekaligus memperkenalkan sejumlah penerima bantuan sosial.
Selain Susannah, Presiden juga menyebut Margarelitha Rohi dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Margarelitha disebut hidup dalam kesulitan sejak kecil, tidak pernah mengenyam pendidikan, lalu berdagang pada usia 38 tahun sambil merawat tantenya yang berusia 80 tahun.
Bantuan sosial ATENSI disebut menjadi salah satu penopang bagi keluarga Margarelitha. Pidato itu menjadi bagian dari laporan kinerja lembaga negara dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Perbedaan antara data pekerjaan Susannah dan nominal upah yang terucap kembali menempatkan ketelitian informasi sebagai perhatian utama. Data personal maupun angka dalam pidato kenegaraan memiliki dampak luas karena disampaikan di hadapan publik.






