Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk mendukung pemulihan pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur yang terdampak gempa. Bantuan tersebut disiapkan agar siswa dan guru tidak kembali menggunakan bangunan sekolah yang rusak atau belum dinyatakan aman.
Satuan pendidikan diminta menghentikan sementara kegiatan belajar di ruang kelas yang mengalami kerusakan akibat gempa. Sekolah dapat memindahkan pembelajaran ke ruang yang aman, menggunakan tenda belajar, atau meliburkan kegiatan apabila kondisi wilayah belum memungkinkan.
Langkah ini ditempuh setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Keselamatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama sebelum proses belajar mengajar kembali berjalan secara normal.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyatakan pemulihan pendidikan akan dilakukan bersama pemerintah daerah. “Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Abdul Mu’ti dalam keterangan tertulis pada 16 Agustus 2026.
Dukungan Tidak Hanya Berupa Tenda
Penanganan pascagempa juga mencakup dukungan psikososial bagi siswa, guru, dan warga sekolah lain yang terdampak. Kemendikdasmen menyiapkan layanan tersebut bersama Himpunan Psikologi Indonesia atau HIMPSI.
Dukungan psikososial diharapkan membantu warga sekolah menghadapi dampak gempa sembari kegiatan pendidikan dipulihkan. Pemulihan tidak hanya diarahkan pada ketersediaan ruang belajar, tetapi juga pada kondisi psikologis komunitas sekolah.
Kemendikdasmen telah berkomunikasi dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena untuk melakukan pendataan kerusakan sekolah. Pendataan menyeluruh diperlukan agar kebutuhan tiap daerah dapat dipetakan dan bantuan disalurkan secara tepat.
Dua Jalur Distribusi ke Kabupaten Terdampak
Pengiriman 50 tenda dibagi ke dalam dua klaster, yakni melalui Labuan Bajo dan Pelabuhan Ende. Pembagian jalur ini ditujukan untuk menjangkau tujuh kabupaten terdampak di sejumlah wilayah NTT.
| Klaster | Jumlah Tenda | Wilayah Sasaran | Jadwal Pengiriman |
|---|---|---|---|
| Labuan Bajo | 30 tenda | Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat | Berangkat 20 Agustus 2026, tiba 22 Agustus 2026 |
| Ende | 20 tenda | Ende, Ngada, Sikka, Nagekeo | Berangkat 21 Agustus 2026 |
Klaster Labuan Bajo memperoleh 30 tenda yang diberangkatkan dari tempat penyimpanan di Jakarta dan Yogyakarta menuju pelabuhan tujuan. Pengiriman dari Surabaya menggunakan KM Dharma Rucitra 7 juga membawa 1.000 paket family kit, 200 paket school kit umum, serta 2.000 paket school kit SMA/SMK.
Kapal tersebut dijadwalkan berangkat pada 20 Agustus 2026 dan diperkirakan tiba di Labuan Bajo dua hari kemudian. Pemasangan tenda ruang kelas darurat ditargetkan mulai dilakukan pada 23 Agustus 2026.
Bantuan untuk klaster pertama akan diterima dan dikelola Balai Guru dan Tenaga Kependidikan NTT. Posko Kemendikdasmen di Kantor Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, akan menjadi titik pengelolaan bantuan tersebut.
Sebanyak 20 tenda untuk klaster Ende dikirim dari tempat penyimpanan BBPPMPV BOE Malang menuju Pelabuhan Ende. Pengangkutan dari Surabaya menggunakan KM Dharma Rucitra 8 dijadwalkan berlangsung pada 21 Agustus 2026.
Balai Penjaminan Mutu Pendidikan NTT akan menerima bantuan klaster Ende melalui Posko Klaster 2 di SKB Ende. Posko itu akan berfungsi sebagai titik transit sebelum tenda disalurkan ke Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo.
Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus akan mengawal pengiriman, distribusi, hingga pemasangan tenda. Proses tersebut berlangsung di bawah koordinasi Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana agar bantuan digunakan sesuai kebutuhan di lapangan.






