Gempa NTT menewaskan 55 orang, melukai 276 warga, dan memaksa 11.543 orang mengungsi. Di tengah kebutuhan darurat yang besar itu, kapal feri pengangkut logistik serta peralatan penanganan bencana telah tiba di Ende pada Senin (17/8) siang.
Kedatangan kapal dari Kupang tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus mempercepat pembukaan akses di wilayah terdampak. Muatannya mencakup bahan pangan, perlengkapan pengungsian, hingga peralatan untuk membersihkan material longsor.
Dampak Gempa NTT pada Permukiman dan Fasilitas Publik
Kerusakan bangunan tercatat meluas, dengan total 5.442 rumah mengalami kerusakan dalam berbagai tingkat. Rumah rusak berat menjadi kategori terbesar, sementara fasilitas pendidikan, kesehatan, ibadat, perkantoran, dan fasilitas umum juga terdampak.
| Kategori Dampak | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Warga meninggal | 55 orang | Korban jiwa akibat gempa |
| Warga luka-luka | 276 orang | Membutuhkan penanganan |
| Pengungsi | 11.543 orang | Warga terdampak yang mengungsi |
| Rumah rusak | 5.442 unit | Berat, sedang, dan ringan |
Dari jumlah rumah yang rusak, sebanyak 2.693 unit masuk kategori rusak berat, 639 unit rusak sedang, dan 2.110 unit rusak ringan. Kerusakan pada fasilitas publik meliputi 238 satuan pendidikan, 125 fasilitas kesehatan, 79 rumah ibadat, 106 kantor, serta 76 fasilitas umum.
Besarnya kerusakan membuat bantuan gempa NTT tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan makan warga. Peralatan pendukung juga dibutuhkan untuk menangani longsor, memulihkan jalan, dan membantu jaringan komunikasi di lokasi terdampak.
Logistik Dikirim Terpadu dari Kupang
Kapal feri itu berangkat dari Pelabuhan Bolok, Kupang, pada Sabtu (16/8) malam sebelum tiba di Ende. Pengiriman dilakukan dengan membawa personel, perlengkapan, dan pasokan kebutuhan pengungsian dalam satu rangkaian bantuan.
Sekretaris BPBD NTT Yohanes Taka Dosi mengatakan satu kapal tersebut membawa hampir seluruh kebutuhan awal penanganan bencana di Flores. “Satu kapal feri itu isinya hampir semua bantuan untuk penanganan bencana di Flores ini,” ujar Yohanes.
Pasokan pangan yang diangkut meliputi beras, mi instan, air mineral, minyak goreng, telur, dan kebutuhan dapur lainnya. Kapal itu juga membawa susu, makanan bayi, makanan bagi anak-anak dan perempuan, serta makanan siap konsumsi.
| Jenis Bantuan | Contoh Muatan | Tujuan Penggunaan |
|---|---|---|
| Pangan | Beras, mi instan, air mineral, telur | Kebutuhan dasar warga |
| Pengungsian | Terpal, tikar, matras, kasur lipat | Tempat penampungan sementara |
| Kelompok rentan | Kebutuhan kesehatan, bayi, dan perempuan | Mendukung kebutuhan khusus |
| Peralatan pendukung | Alat pembersihan dan pemulihan akses | Longsor, jalan, dan komunikasi |
Untuk lokasi pengungsian, bantuan turut mencakup karpet dan selimut bagi warga yang membutuhkan tempat beristirahat. Seluruh dukungan dari Kupang diarahkan untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat selama masa tanggap darurat.
Cadangan Beras Tersedia di Sejumlah Wilayah Flores
Selain pengiriman melalui laut, Badan Pangan Nasional mengalokasikan beras sebanyak 5 kilogram per kepala keluarga untuk periode dua minggu selama tanggap darurat. Cadangan beras pemerintah melalui Bulog juga tersedia di Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, dan Labuan Bajo.
Stok tambahan berada di Kupang dan dapat didorong ke Flores apabila kebutuhan distribusi meningkat. Ketersediaan di sejumlah titik tersebut diharapkan menjaga pasokan pangan bagi warga terdampak saat penyaluran bantuan berlangsung.
Distribusi logistik dan pengerahan alat berat menjadi penting karena kebutuhan pemulihan tidak berhenti pada penanganan pengungsian. Akses jalan, layanan dasar, serta fasilitas publik yang rusak memerlukan dukungan berkelanjutan di wilayah terdampak.






