Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI menjadi incaran utama investor asing ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah. Nilai beli bersih asing pada saham bank BUMN tersebut mencapai Rp719 miliar.
Arus dana itu menciptakan kontras di tengah penutupan pekan ketiga Agustus 2026, ketika IHSG berada di level 6.401 atau turun 0,12 persen. Perhatian investor asing tampak terkonsentrasi pada sejumlah saham pilihan saat bursa memasuki fase konsolidasi.
Data BNI Sekuritas menempatkan BBRI di urutan pertama akumulasi beli bersih investor asing. TINS, BREN, ANTM, dan BBCA juga tercatat menerima aliran dana asing sepanjang periode tersebut.
| Saham | Aksi Investor Asing | Nilai Transaksi |
|---|---|---|
| BBRI | Beli bersih | Rp719 miliar |
| TINS | Beli bersih | Rp244 miliar |
| BREN | Beli bersih | Rp163 miliar |
| ANTM | Beli bersih | Rp148 miliar |
| BBCA | Beli bersih | Rp126 miliar |
Pergerakan dana asing tidak merata di kelompok saham unggulan, termasuk sektor perbankan. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI justru menjadi saham dengan nilai jual bersih asing terbesar, mencapai Rp821 miliar.
| Saham | Aksi Investor Asing | Nilai Transaksi |
|---|---|---|
| BMRI | Jual bersih | Rp821 miliar |
| TPIA | Jual bersih | Rp409 miliar |
| ASII | Jual bersih | Rp264 miliar |
| TLKM | Jual bersih | Rp247 miliar |
| UNTR | Jual bersih | Rp101 miliar |
Perbedaan arah transaksi pada BBRI dan BMRI menunjukkan investor asing melakukan seleksi yang ketat, bukan pembelian merata pada seluruh saham berkapitalisasi besar. Kondisi ini terjadi ketika sentimen pasar domestik masih dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan aktivitas perdagangan.
Rupiah dan Transaksi Menjadi Tekanan
BNI Sekuritas dalam riset pada Selasa, 18 Agustus 2026, mencatat rupiah berada di posisi Rp17.813 per dolar AS. Pelemahan kurs tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan pasar saham domestik.
Volume transaksi yang menurun turut membatasi kemampuan IHSG untuk bergerak menguat. Dengan kondisi tersebut, pembelian asing pada saham tertentu belum cukup untuk mengubah kecenderungan indeks secara keseluruhan.
Analis BNI Sekuritas Kevin J. Hutabarat memproyeksikan IHSG bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah pada pekan ini. Indeks berpotensi menguji area support pertama di 6.363 dan support kedua di 6.039.
Apabila pasar merespons sentimen positif, IHSG memiliki resistance terdekat di level 6.557. Resistance berikutnya diproyeksikan berada pada posisi 6.838.
Penilaian terhadap BBRI
Di tengah tekanan pasar, BBRI memperoleh penilaian positif dari JP Morgan terkait langkah perbaikan internal perseroan dan keterlibatannya dalam program pemberdayaan masyarakat bawah. Perwakilan JP Morgan menyatakan, “Kini, masalah BBRI mulai diperbaiki, seiring perbaikan internal dan banyaknya program pemerintah yang menyasar masyarakat bawah.”
JP Morgan menetapkan rating overweight untuk BBRI dengan target harga Rp3.400 per saham. KB Valbury Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.010 per lembar.
Pada pembukaan perdagangan Selasa, 18 Agustus 2026, saham BBRI stagnan di Rp3.120 per lembar. Kapitalisasi pasar perseroan tercatat mencapai Rp468 triliun pada saat itu.
Untuk perdagangan jangka pendek dalam rentang harga terbatas, BNI Sekuritas merekomendasikan spekulasi beli pada TPIA, ANTM, RAJA, PTRO, EXCL, dan PGAS. Rekomendasi itu muncul saat pasar masih menghadapi tekanan kurs rupiah serta melemahnya volume transaksi.






