Sebanyak 1,03 juta lulusan D4, S1, S2, dan S3 tercatat menganggur di Indonesia. Angka ini menunjukkan ijazah perguruan tinggi belum selalu cukup untuk membuka akses ke pekerjaan dan penghasilan.
Kelompok lulusan perguruan tinggi tersebut menyumbang 14,31 persen dari total pengangguran berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Situasi ini menjadi tanda bahwa persoalan pencari kerja terdidik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik individu.
Lapangan kerja berkualitas dinilai belum tumbuh sebanding dengan bertambahnya tenaga kerja terdidik. Akibatnya, semakin banyak lulusan menghadapi persaingan untuk mengubah pendidikan yang ditempuh menjadi pekerjaan tetap.
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerjasama, dan Digitalisasi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Radius Setiyawan, M.A., menilai persoalan tersebut berhubungan dengan perubahan struktur ekonomi dan ketimpangan sosial. Ia mengingatkan bahwa pembahasan tidak cukup berhenti pada pertanyaan mengapa sarjana menganggur.
Menurut Radius, pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah struktur ekonomi telah menyediakan ruang kerja yang memadai bagi tenaga kerja terdidik. Investasi yang bergerak ke sektor padat modal dapat bertambah tanpa diikuti penciptaan pekerjaan dalam jumlah sebanding.
“Kalau investasi semakin banyak masuk ke sektor padat modal, tetapi penciptaan pekerjaan tidak sebanding, kita menghadapi persoalan struktural,” ujar Radius. Dalam kondisi demikian, jumlah sarjana terus bertambah sementara peluang untuk memperoleh pendapatan dari pekerjaan tetap tetap terbatas.
Posisi Lulusan dalam Data Pengangguran
Data Survei Angkatan Kerja Nasional atau Sakernas Mei 2026 yang dicatat Badan Pusat Statistik memperlihatkan lulusan SMA menjadi kelompok dengan porsi pengangguran paling besar. Lulusan SMK berada di posisi berikutnya, sedangkan lulusan perguruan tinggi menempati porsi 14,31 persen.
| Pendidikan Tertinggi | Porsi Pengangguran | Keterangan |
|---|---|---|
| SMA | 28 persen | Kelompok tertinggi |
| SMK | 22,39 persen | Kelompok kedua tertinggi |
| D4, S1, S2, dan S3 | 14,31 persen | Setara 1,03 juta orang |
Besarnya jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi memperlihatkan bahwa akses ke pasar kerja tidak dibentuk oleh pendidikan formal semata. Lulusan dengan jenjang pendidikan yang sama dapat memiliki peluang berbeda karena membawa modal yang berbeda pula.
Ijazah Tidak Berdiri Sendiri
Radius menggunakan pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu untuk membaca persoalan tersebut. Dalam kerangka itu, ijazah dipandang sebagai modal budaya yang belum tentu langsung berubah menjadi modal ekonomi berupa pekerjaan dan penghasilan.
“Ijazah itu modal budaya. Tetapi modal budaya tidak otomatis berubah menjadi modal ekonomi,” kata Radius dalam keterangan yang dimuat situs Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Agustus 2026.
Selain ijazah, pencari kerja membutuhkan modal sosial seperti jaringan, pengalaman, relasi, akses teknologi, kemampuan bahasa, serta dukungan ekonomi keluarga. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan seberapa cepat seseorang memasuki dan bertahan di pasar kerja.
“Orang bisa sama-sama sarjana, tetapi kapital yang dimiliki berbeda,” ujar Radius. Ada lulusan yang telah memiliki pengalaman dan jaringan, sementara sebagian lain hanya mengandalkan ijazah sebagai modal utama saat mencari kerja.
Garis Awal Karier yang Tidak Setara
Ketimpangan pasar kerja juga terlihat dari garis awal yang tidak sama bagi generasi muda. Sebagian lulusan memperoleh dukungan keluarga, pendidikan berkualitas, kemampuan bahasa, akses teknologi, serta pengalaman kerja sejak awal.
Sebagian lain harus membangun seluruh modal tersebut setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Karena itu, keberhasilan seorang lulusan memperoleh pekerjaan melalui ijazah tidak dapat digeneralisasi sebagai pengalaman semua sarjana.
Pengangguran lulusan perguruan tinggi tidak tepat jika seluruh bebannya diletakkan pada individu atau kampus. Ketimpangan akses terhadap modal sosial dan ekonomi ikut menentukan siapa yang lebih mudah mengubah pendidikan menjadi kesempatan kerja.






