Setelah Longsor dan Topan Mematikan, Xi Dorong China Perkuat Pencegahan

Rangkaian topan, banjir, hujan deras, dan longsor mematikan membuat pemerintah China didorong memperkuat perlindungan terhadap warganya. Presiden Xi Jinping meminta pencegahan ditempatkan sebagai langkah utama sebelum bencana menimbulkan kerusakan yang lebih luas.

Seruan itu muncul setelah China menghadapi topan terkuat pada tahun ini serta longsor yang merenggut puluhan nyawa. Xi menilai penanganan bencana harus mampu menjaga kehidupan masyarakat sekaligus mencegah gangguan terhadap stabilitas sosial.

Risiko Cuaca Meningkat

Xi mengaitkan meningkatnya ancaman tersebut dengan pemanasan global yang terus berlangsung. Menurutnya, hujan lebat, banjir, topan, dan kekeringan kini terjadi lebih signifikan serta dapat menimbulkan kerusakan lebih besar.

“Seiring pemanasan global terus berlanjut, kejadian cuaca ekstrem dan bencana seperti hujan lebat, banjir, topan, dan kekeringan meningkat secara signifikan, sehingga memperparah dampak kerusakannya,” kata Xi, dikutip Reuters. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Cuaca Ekstrem China tidak dapat dipandang sebagai risiko yang bersifat terbatas di satu wilayah.

Pola El Niño tahun ini turut meningkatkan suhu dan memicu topan yang lebih sering serta lebih intens. Kondisi tersebut memperbesar kebutuhan akan Pencegahan Bencana yang terukur di tengah perubahan cuaca yang makin destruktif.

Hujan deras sempat mengguyur ibu kota hingga merendam sejumlah jalan utama. Situasi itu juga membuat kendaraan terjebak, memperlihatkan dampak langsung cuaca buruk terhadap aktivitas masyarakat perkotaan.

Perbaikan Sistem dan Infrastruktur

Xi meminta pemerintah memperkuat pemantauan risiko serta sistem peringatan dini. Ia juga menyoroti perlunya membenahi kelemahan pada infrastruktur pengendalian banjir dan drainase di wilayah utara China.

Arah kebijakan tersebut menempatkan pencegahan sebagai tahapan yang harus dilakukan sebelum dampak bencana berkembang. Pendekatan ini mencakup peningkatan kemampuan menghadapi ancaman di kawasan padat penduduk maupun wilayah dengan infrastruktur yang rentan.

Pernyataan Xi diterbitkan Qiushi pada Sabtu (15/8), salah satu saluran utama pesan Partai Komunis China. Isi pernyataan itu berasal dari pidato yang disampaikan Xi dalam sesi belajar Politbiro pada 28 April.

Xi menekankan bahwa risiko bencana tidak boleh dibiarkan mengusik kehidupan masyarakat. Ia juga meminta agar bencana tidak berkembang menjadi gangguan terhadap keamanan ekonomi, energi, pangan, dan sosial.

Longsor Menelan Puluhan Korban

Korban jiwa tercatat dalam dua peristiwa longsor di wilayah barat laut dan barat daya China. Banjir bandang menjadi pemicu kejadian di Gansu, sedangkan runtuhnya gunung menyebabkan longsor di Chongqing.

LokasiPemicuKorban Tewas
Provinsi GansuBanjir bandang memicu longsor25 orang
ChongqingRuntuhnya gunung51 orang

Longsor di Provinsi Gansu pada bulan lalu menewaskan 25 orang. Sementara itu, peristiwa di Chongqing menewaskan 51 orang.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan besarnya dampak bencana ketika cuaca buruk melanda berbagai wilayah secara berulang. Para ilmuwan mengaitkan semakin seringnya cuaca ekstrem itu dengan perubahan iklim.

Teknologi Didorong untuk Penyelamatan

Xi turut meminta pemanfaatan kecerdasan buatan, drone, dan penginderaan jauh berbasis satelit dalam operasi penyelamatan. Teknologi Respons Bencana ini dipandang dapat memperkuat kemampuan pemerintah menghadapi berbagai jenis ancaman alam.

Penggunaan teknologi menjadi pelengkap bagi penguatan pemantauan, peringatan dini, dan infrastruktur fisik. Langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki kesiapan sebelum bencana terjadi maupun mempercepat penanganan saat keadaan darurat berlangsung.

Xi Jinping menegaskan China akan terus meningkatkan kemampuan pencegahan dan respons terhadap bencana alam. Kebijakan itu ditujukan untuk melindungi kehidupan serta harta benda masyarakat dan menjaga stabilitas sosial.

Baca Juga