Lebih dari 2.000 Warga Nitung Mengungsi, Bantuan Tertahan Jalan Longsor

Lebih dari 2.000 warga Desa Nitung, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, terpaksa mengungsi setelah gempa merusak berat ratusan rumah. Saat warga bertahan di tenda seadanya, desa itu sempat terisolasi hampir dua hari sehingga bantuan belum dapat menjangkau lokasi.

Gempa juga menimbulkan korban jiwa di Desa Nitung. Seorang warga meninggal akibat tertimpa reruntuhan rumah, sedangkan dua warga lainnya mengalami luka berat.

Kerusakan Rumah dan Layanan Dasar Terputus

Lebih dari 100 rumah di desa tersebut dilaporkan mengalami kerusakan berat berdasarkan pantauan di lapangan. Kondisi bangunan yang tidak lagi aman membuat banyak keluarga memilih meninggalkan rumah dan bertahan di pengungsian.

AspekKondisi di Desa NitungKeterangan
Rumah rusakLebih dari 100 unitDilaporkan rusak berat
Warga mengungsiLebih dari 2.000 orangMenempati tenda seadanya
Korban1 meninggal, 2 luka beratAkibat reruntuhan rumah
Layanan dasarListrik dan komunikasi putusTerjadi setelah gempa

Putusnya aliran listrik dan jaringan komunikasi memperberat situasi warga setelah gempa. Gangguan dua layanan dasar itu juga menyulitkan koordinasi ketika akses menuju desa belum dapat dilalui.

Desa Nitung berada di Pulau Palue yang memiliki jumlah penduduk 10.728 jiwa. Wilayah ini kemudian menjadi salah satu lokasi yang membutuhkan kelancaran pengiriman kebutuhan bagi pengungsi.

Jalur Darat Tertutup Material Longsor

Keterisolasian terjadi setelah jalur darat tertutup batu-batu besar dan tanah longsor. Warga tidak segera menerima bantuan karena kendaraan dan petugas sulit menembus jalan menuju desa.

Jalur tersebut tetap berisiko meski upaya pembukaan akses dilakukan. Material reruntuhan masih berada di beberapa titik, sementara tanah di sekitar jalan berpotensi kembali bergerak.

Tim Polres Sikka akhirnya tiba di Desa Nitung pada Minggu (16/8) sekitar pukul 20.00 Wita. Rombongan yang dipimpin Wakapolres Sikka Kompol Marselus Yugo Amboro menempuh perjalanan darat sekitar dua jam dari bibir pantai.

Yugo Amboro menggambarkan risiko yang dihadapi petugas saat melintasi jalur tersebut. “Kesulitan kami adalah jalan yang masih rawan longsor, dan itu jalan menyerempet nyawa,” kata Yugo Amboro.

Akses Terbuka, Distribusi Bantuan Masih Menjadi Tantangan

Menurut CNN Indonesia, tim kepolisian masih berada di Desa Nitung hingga Senin (17/8) pagi. Setelah jalur berhasil ditembus, perhatian diarahkan pada upaya mendorong bantuan masuk kepada warga terdampak.

Yugo Amboro menyatakan warga belum memperoleh bantuan ketika desa masih terisolasi. Hambatan itu terjadi bukan karena kebutuhan pengungsi berkurang, melainkan karena akses darat tertutup hampir dua hari setelah gempa.

Ia menilai Desa Nitung kemungkinan menjadi wilayah dengan dampak paling parah di Kabupaten Sikka. Penilaian tersebut didasarkan pada jumlah rumah rusak, banyaknya pengungsi, serta sulitnya menjangkau lokasi.

Pembukaan jalan menjadi langkah penting untuk mengakhiri keterisolasian desa, tetapi risiko longsor belum sepenuhnya hilang. Kondisi jalur itu tetap menentukan kelancaran pengiriman bantuan dan kebutuhan dasar bagi warga yang masih mengungsi.

Baca Juga